Yang lebih berharga dari perjalanan adalah, pengakuan bahwa kekeliruan-kekeliruan pernah dilakukan. Dan di sini, pengakuan itu terekam.
Senin, Juli 22, 2013
Menyikapi Perubahan
Seorang motivator tahun lalu pernah menyampaikan kalimat penting yang kutandai dengan tinta merah. Begini dia bilang :
“Yang menjadi persoalan adalah betapa kita tak bisa menyikapi setiap perubahan dengan baik”
Kehidupan tak akan pernah diam mematung tanpa perubahan. Semakin manusia berkembang pengetahuannya, ia akan semakin berpikir se-efisien mungkin menggunakan tenaga dan pikirannya dalam mendapatkan sesuatu sebagai pemenuhan terhadap kebutuhannya sehari-hari.
Selain itu juga adalah makin tingginya daya konsumsi dibanding produksi. Pendidikan yang semestinya sebagai penggerak manusia untuk bisa lebih kreatif dan berproduksi, ternyata gagal dalam peranannya. Ia gagal masuk dalam sendi-sendi pemikiran dan gaya hidup manusia. Intinya, orang sekarang (siapapun saja, termasuk aku) mau hasil besar dengan umpan paling kecil.
Satu contoh paling nyata yang kuhadapi sehari-hari adalah menyikapi perilaku pekerja di lahan tebu. Mafhum, di pedesaan-pedesaan sekarang perempuan lulusan SMU sudah lari ke luar negeri menjadi TKW. Beberapa diantaranya karena desakan kebutuhan hidup, meskipun sudah beranak-bersuami mereka tetap saja nekat pergi. Konon, kerja di luar negeri menjanjikan gaji lebih besar. Hal ini seringkali menguntungkan pihak lelaki, istri kerja diluar dan selalu kirim uang tiap bulan e lakinya malah gak doyan kerja lagi, toh buat apa kerja... wong udah pegang hp pintar, motor keluaran terbaru, dan bisa ngewarung tiap hari...
Budaya kerja keras di pedesaan-pedesaan sekarang sudah mulai punah. Banyak jalan pintas-jalan pintas yg mulai ditempuh banyak orang. Sementara pendidikan dipandang sebagai kegiatan pantes-pantesan, bukan lagi sebagai kebutuhan sebagai dasar pondasi manusia menyongsong kehidupannya. Ironis.
Kota dengan media massa-nya punya tanggung jawab besar terhadap perubahan perilaku seperti ini. Dan jika dampak besar dari terlalu bebasnya modal bermain ini tidak segera dibawa ke arah kesadaran, tentu keadaan akan bertambah lebih buruk lagi. Sangat buruk, sebab apa... yang dapat membunuh eksistensi Tuhan dalam kehidupan manusia itu adalah jika manusia di kepalanya sudah berorientasi kepada materi.
...
Dari pojok-pojok kebun tebu, dengan beberapa gelintir pekerja, tulisan ini bersumber. Dengan sepenuh keyakinan, semoga Tuhan tetap memberi inisiatif bagaimana aku harus menyikapi perubahan ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar