Kamis, Februari 09, 2012

Undangan ke Jakarta

Sejak seminggu sebelum tanggal 5 februari kemarin sudah dikoordinasi tentang siapa-siapa yang layak diberangkatkan ke Jakarta, undangan dari menteri BUMN Dahlan Iskan, tapi undangan tersebut atas nama keluarga dan untuk acara keluarga.

Aku turut senang karena meskipun aku memiliki hubungan saudara yg tidak begitu dekat, diikutkan. Ikut juga bapak dan pak Khozin dari Surabaya.

Senin 6 februari sore aku sudah berada di rumah dinas pak DI di sekitaran Gatot Subroto - Jaksel. Beberapa keluarga juga sudah tampak datang. Sejam sebelum maghrib pak DI datang di rumah tersebut, dia salami semuanya, lalu keliling rumah dinas -karena memang dia baru pertama kali menginjakkan rumah yg diberikan negara sebagai fasilitas dia sebagai menteri-. Dia punya rumah lain di Jakarta, tempat yang ia selalu pulangi setiap habis kerja atau berpergian.

Karena menunggu sejam menuju maghrib, aku minta ke pak DI untuk memberi sambutan. Ya intinya ia senang bisa berkumpul di rumahnya, dan sekaligus menggelar pengajian bersama. Tapi dari rasa senangnya tersebut pak DI juga prihatin dengan konflik internal yang ada pada keluarga besar pesantren, tempat nenek-moyang kami hidup. Rebutan warisan, tampuk kepemimpinan dan pengurus pesantren yang demen berpolitik menjadikan pesantren tidak lagi dihargai dan menjadi tauladan masyarakat di sekitar. Dan pastinya itu bertolak belakang dengan cita-cita kakek buyut pendiri pesantren, bahwa pesantren harus menjadi panutan, pengampu, dan pengayom masyarakat.

Lalu pak Khozin diminta memberi sedikit tausyiah, yang membahas persoalan maqasidh-syariah. Bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia yang selalu berutujuan untuk menjaga agama, akal, keuturunan & harta. Setelah itu dilanjut shalat maghrib, wiridan dan mendoakan alm pak Iskan, bapak dari pak DI.

Usai isya semua makan prasmanan, aneka menu disediakan. Dan pastinya, enak. Habis makan pak DI langsung meluncur ke studio Metro TV karena ada acara Economic Challenge yang menjadikan dia sebagai narasumber. Kami semua yang berada di rumah disiapkan layar besar untuk nonton bersama.

Abis itu semua pada istirahat. Tapi aku, pak Khozin, pak kyai Zuhdi, bapak, dll duduk-duduk aja di taman belakang rumah. Kami ngobrol banyak tentang tasawuf dan ilmu-ilmu keagamaan, aku mencoba menjadi moderator dari pertanyaan orang-orang dan pak Khozin sebagai narasumbernya. Gayeng sekali malam itu. Dan secara gak diduga pak DI muncul dari pintu dan mengambil duduk di sebuah batu taman di dekat kami, tanpa alas, ngesot begitulah. Mencoba nimbrung dan makin ramai. Karena pak DI tidak mencoba mengambil jarak daripada kami, meski ia menteri, ia seperti teman kami sehari-hari, ngobrol dengan santai, dan bercanda lepas. Sampai sekitar jam satu malam kami baru bubar.

Aku pun tidak habis pikir, diberi kesempatan ngobrol dengan orang yang hari ini dielu-elukan oleh banyak orang di negeri ini. Dan pertemuan di Jakarta itu menantangku : melakukan hal terbaik, sekecil apapun itu. Sehingga secara gak sadar akan bisa menjadi kebanggaan di suatu hari nanti.

Esok sorenya, semua pulang ke Takeran.

Tidak ada komentar: