Sabtu, April 04, 2009

Mendekati 9 April

Sepuluh hari lagi pemilu-raya digelar di seluruh tempat di negeri ini. Dengan harapan, seluruh rakyat bisa ikut berpartisipasi dalam memberikan suaranya.

Suara rakyat suara Tuhan, ujar mereka berapi-api.

Tapi Tuhan — rakyat lebih tepatnya, saat ini enggan memberikan suaranya untuk mereka yang menawarkan diri bagi perubahan bersama. Semuanya tak lepas dari tingkah polah para penawar itu di masa lalu. Kita ambil contoh gambling saja pada jaman orde baru, bagaimana kekuatan pohon beringin tak pernah tersentuh, berkali-kali pemilu, berkali-kali suara rakyat di taruh saku celana kekuasaan, seperti tisu, hanya untuk mengusap keringat, kotoran di wajah, leher, ketiak, dan lain sebagainya.

Dan memang kita tidak bisa menyalahkan pribadi yang terbangun atas nama pengalaman dan masa lalu. Mereka sudah terlalu banyak makan asam garam.

Tapi dalam pada semua itu, sebagai bagian daripada masyarakat yang baik, masa lalu yang telah membentuk kepribadian dan budaya tersebut, selama ini kurang memberikan andil bagi sebuah perubahan yang kita inginkan bersama. Kita lebih terpaku pada “objek” yang terzalimi, padahal seorang yang telah terzalimi tidak dibenarkan untuk berputus-asa. Bisa kita bayangkanlah, seumpama dulu di jaman pra-kemerdekaan kita mengadopsi “objek yang terzalimi”, sangat pasti kita hanya menjadi bulan-bulanan penjajah dan tak pernah ada kemerdekaan, atau sekedar dapat hadiah kemerdekaan seperti bangsa sebelah itu. Sebagai bentuk penolakan untuk keputus-asaan, ada kata yang sangat digdaya yang dinamakan dengan : Perlawanan!

Nah, perlawanan itu harus kita pahami dengan memberikan andil untuk masa depan negeri. Dan pada saat ini adalah menyumbangkan suara, memilih pemimpin yang memang benar-benar telah kita pelajari dengan seksama visi dan misi perubahan yang ia tawarkan.

Golput adalah dari kesekian hak pilih rakyat yang tak bisa dipaksakan.

Adalah suara pengecut yang berputus-asa! Yang hanya berfikiran, karena tak ada pemimpin yang benar-benar ideal untuk membawa kemajuan. Yang dengan berdiam diri tidak menyudikan diri menyumbang suaranya untuk perlawanan, untuk perubahan dan memosisikan diri sebagai penonton.

Penonton adalah orang yang tak bersikap! Penonton adalah orang yang menonton apa yang ditonton, jika halnya tontonan itu menarik ia akan bersorak-sorai oh itu tontonan menarik, kalaupun tontonan tidak asik, mereka juga tetap bersorak riang gembira sembari mencemooh. Kata-kata apa yang tak lebih cocok untuk tipikal golongan semacam ini selain : Hipokrit!!!

Semua itu tak bisa kita sangkal lagi, di tataran kenyataannya ada sebuah contoh. Beberapa minggu lalu saya menyaksikan berita di layer tv, bahwasanya seorang tokoh GD (kita inisialkan saja) memilih dan menyerukan golput bagi seluruh pengikutnya. Seperti kita ketahui tokoh GD ini, partainya divonis kalah dan tidak sah.
Namun tak berapa lama setelah itu, GD menyerukan pengikutnya untuk menyumbang suara di partai ini dan itu, sementara ia sendiri menjadi dewan Pembina di salah satu partai yang ia tak sebutkan pada pengikutnya untuk dicontreng!

Tipikal pemimpin semacam inilah yang meragukan, yang plin plan, yang tidak menjadi syarat oleh perubahan!

Nah…

Banyak intelektual bilang, masyarakat kita telah dewasa dan pintar dalam bersikap. Tapi saya bisa bilang, masyarakat kita belum dewasa! Masyarakat kita masih terlalu metal (mellow total) dan terbuai dengan rasa terzaliminya! Masyarakat kita belum sudi untuk beranjak dari keputus-asaan (secara mayoritas). Belum mampu untuk melawan!

Yang kita ketahui selama ini, kita memilih pemimpin bukan lebih karena faktor misi yang diemban sang capin (calon pemimpin) itu sendiri. Tapi lebih daripada berapa banyak duit sih yang digelontorkan sang pemimpin! Meskipun ada yang dinamakan dengan Panwaslu, tapi tetap saja Panwaslu tak bisa membungkam aktivitas politik uang tersebut. Saya sendiri menjadi saksi bagaimana pilkada di tempat saya, ayah saya yang seorang pengusaha dengan melempar beberapa M saja bisa memorak-porandakan pilkada.

Memilih adalah lain hal dengan berjudi, lain hal dengan membeli kucing dalam karung. Memilih adalah juga memilah, mana yang terbaik dari sekian pilihan yang katanya sih juga tak mau dibilang terjelek. Memilih adalah bukti perlawanan kita terhadap nasib yang beku, memilih dan menerima kekalahan atau kemenangan adalah salah satu barometer sudah pintar dan dewasakah masyarakat kita saat ini!

Soal yang dipilih jika kemudian hari tidak sesuai dengan yang ia janjikan, itu tanggungan si pemimpin di hadapan manusia dan Tuhannya. Segala kekurangan adalah milik manusia, dan sebagai manusia ada kewajiban mengingatkan. Dan, purna sudah kita menggugurkan kewajiban sebagai masyarakat yang baik.

Pada Tuhan, pedoman dan utusan, kebenaran akal disandarkan.

Tidak ada komentar: