Minggu, Mei 24, 2009

Pengadilan Bahasa

caramu berbahasa adalah cermin kwalitas dirimu

setiap bangsa memiliki berbagai macam kekayaan. kekayaan bahasa adalah salah satu diantaranya. semakin bahasa suatu bangsa diadopsi oleh bangsa lain (entah, terlepas dari proses bagaimana bahasa tersebut diadopsi, semisal penjajahan dsb. _ tidak kubahas)

sebagaimana sama kita ketahui, sumpah pemuda didalamnya mengikutkan serta sumpah berbahasa, yang setelah berpuluh-puluh tahun lamanya sumpah-berbahasa tersebut terbukti ampuh dalam memersatukan keutuhan bangsa ini. bangsa yang berada dalam ruang lingkup multi suku, multi kedaerahan yang tak berbilang jumlahnya.

kebenaran absolut di dalam berbahasa berpatokan kepada tata bahasa yang telah disempurnakan. bukan berpatokan kepada cara berbahasa dimana ibukota negara tersebut berada. memang ibukota negara adalah titik pusat berputarnya kegiatan suatu negara, yang berimbas mau tak mau orang-orang dari berbagai daerah menggunakan satu bahasa.

disini ada tapinya...

kita mesti melihat dengan cermat, di ibukota tersebut terdapat suku asli. atau pendatang-pendatang yang akhirnya beranak pinak. penduduk asli tersebut pasti memiliki bahasa dan budaya tersendiri yang akhirnya memiliki andil serta yang cukup signifikan dalam menciptakan corak budaya ibukota tersebut.

oada suatu waktu, saya pernah bercengkrama dengan seorang penduduk asli ibukota di negara tempat saya tinggal. sebut saja dia bersuku betawi. awal dari obrolan tersebut, saya, katanya teramat medok dalam berbahasa. (medok, karena saya berasal dari suku jawa yang, tentu, memiliki corak berbicara dan berbahasa yang beda dengannya).

apakah ini sebuah 'pengadilan' dalam cara berbahasa, _pada saya khususnya? saya pikir tidak juga. selama kaidah yang saya gunakan tidak menyalahi aturan berbahasa indonesia yang baik, saya pikir saya tidak salah. (tapi, mungkin tidak keren! ya begitulah orang-orang kita, suatu hal yang keren dianggapnya benar, meskipun itu salah. tapi hal yang benar kalau tidak keren, ya salah!)

sempat saya berfikir untuk 'nyeplos' ke orang betawi tadi, memangnya betawi-mu tak medok? apa orang sunda tidak medok dengan sundanya?

kalau ditelusuri seksama, kita tidak akan cuma membahas bahasa, tapi budaya serta kehidupan sosial. dan jika setiap suku mengunggulkan kesukuannya, jelas hal ini tidak akan pernah rampung. karena setiap suku memiliki kekayaan sejarahnya sendiri-sendiri yang tak boleh kita pukul rata.

jadi daripada semua hal diatas, patokan benar-tidaknya berbahasa bukan semata-mata disandarkan kepada tempat termaju dimana komunitas memunyai 'aksen' berbahasa yang keren. (pola pikir yang harus orang kita rubah)

Tidak ada komentar: