Selasa, Juli 01, 2008

Khitan

Memotong daging diujung kemaluan yang ditakutkan menjadi tempat bersarangnya penyakit, adalah juga sunah yang dilakoni.

Kemarin petang, si bontot berkhitan diantar bapak ke seorang mantri di dusun kami. Bagaimana mekanisme ia mengitan akupun tak tahu. Yang kutahu mantri itu tak sebegitu sadis seperti tukang calak "tukang khitan" terkenal sebelumnya yang sejak beberapa tahun silam dihantam stroke.

Tukang calak dihantam stroke, haduh, ada pikiran nakalku apakah karena sering megang "itu" ya? ah, gak sebegitunya ah. Ia justru sangat berjasa bagi kaum lelaki di dusun kami.

Biasanya, setelah pengitanan diadakan selamatan, atau bahkan ada yang menanggap wayang, kledek, dangdutan, campursari, dll. Namun, keluarga yang lebih religius biasanya hanya selamatan dengan mengundang para tetangga dan saudaranya.

Selamatan yang dimaksudkan adalah upacara doa bersama yang diharapkan setelah dikhitan si empunya "itu" senantiasa dinaungi doa. "Itu" digunakan dengan semestinya, terjauh dari penyimpangan maranafsu dan bahaya. Jika, melongok masa sekarang, dengan banyaknya perempuan hamil pra-rabi, apakah doa yang telah dipanjatkan dulu waktu khitanan tak manjur lagi? ataukah mereka yang menghamili itu "itunya" dulu yang menanggap hura-hura dan bukan doa?

Baligh, konon ditandai dengan khitanan ini. Baligh juga selalu bersanding dengan orang-orang yang berakal dalam beberapa syarat seseorang dalam mengerjakan hal yang diwajibkan. Khitan dan baligh, juga menjadi isyarat bahwa kemaluan juga mesti terpelajar.

Entahlah, yang aku tahu khitan sudah ada sejak nabi ibrahim. Dengan keutamaan-keutamaan luarbiasa jika benar-benar dikaji. Ia juga menjadi ritual buat "itu"nya lelaki yahudi.

Tidak ada komentar: