Senin, Juni 30, 2008

Kita

Di Tugu, malam itu pertama kali kita bertemu.

Lampu kuning-kuning di sepanjang jalan sebelah barat malioboro. Becak-becak parkir dan pengayuhnya tidur telungkup di tempat duduk penumpangnya. Angkringan sunyi, mata penjualnya seperti kehabisan suplemen seperti malam sebelum-sebelumnya, ngantuk. Dan suara para seniman yang berbisik-bisik di lorong malioboro seperti suasana ketika malam dimana revolusi perancis abad pertengahan hendak meletus.

Kau ulurkan tanganmu mengenalkan diri, meski aku tak setuju karena kita telah lama saling mengenali kepribadian kita masing-masing. Kita lebih mengenali jiwa daripada nama dan baju celana. Aku menjawab uluran tanganmu itu, dan kau menyentuh keningku yang tertutup rambut. Mari kita telusuri malam Jogja. Kita telusuri kehidupan yang tak adil untuk kita sikapi seperti sikap kita kepada kehidupan siang harinya. Mari kita belajar membuka mata dan mengarifi segala yang benar-benar nyata di dunia ini.

Katamu beberapa hari setelah pertemuan di Tugu itu : aku dingin. Alasan kenapa kau mulai kangen padaku.

Kau yang kupastikan lebih sering berbicara ternyata benar akan lebih banyak berbicara. Karena aku menyukai mendengar daripada melontar ucapan. Aku tidak menyesali pertemuan dan keadaan yang pernah kita perjanjikan untuk perjalanan saat ini, juga perjalanan mendatang. Aku menyayangimu karena kau berfikir, bukan memula wujud seperti yang orang ramai lakoni, mencintai wujud lalu mencoba merangkai fikiran-fikiran hingga pada akhirnya mereka mengatakan ; rupanya kita tak sefikiran, kemudian cerai-mencerai di tengah jalanan.

Karena aku ingin kau seperti Aisha bagi Rasululla. Seperti Jenny bagi Karl Marx. Seperti Katia bagi Thomas Mann. Seperti Vera bagi Nabokov. Seperti Annelies bagi Minke.

Aku membawamu ke pantai paling selatan, yang sepanjang jalanannya ditanami turi dan pohon jati. Aku membawamu ke gunung, yang disana ribuan cemara menghijaui tubuh telanjang eksotik gunung. Aku membawamu ke telaga, yang disana dulunya kisah asmara orangtuaku berbunga dan akhirnya lahirlah aku. Aku membawa pikiranmu mengibai orang-orang yang kalah, meski pada suatu saat setelah itu kau bilang kalau aku juga perlu mengulurkan tangan kepada yang jahanam. Bukan, bukan aku tak setuju dengan ajakanmu, keberpihakanku ini lebih daripada bayi dari karakter masa kecilku yang melulu bermain di ladang tebu. Bermain di ladang orang-orang kalah.

Ladang tebu yang kutunjukkan saat kita melintasi pedusunan yang mulai sesak. Yang otak orang-orangnya perlu kita beri pelajaran, memang kita tak level untuk mengurusi kebodohan yang mereka lakukan. Sebenarnya mereka adalah orang kalah yang dengan kekalahannya lebih merasa dirinya frustasi menggapai kemenangan, sehingga jalan pintaspun mereka pilih, kemenangan bukanlah hasil dari usaha dari kompetisi, melainkan berupa penindasan. Menindas orang-orang yang kadang mereka tak ketahui bahwa yang mereka tindas itu adalah orang yang justru membela nasibnya.

Keterpelajaran kita bukan untuk diri kita saja, tapi juga untuk mereka yang tak terpelajar. Keterpelajaran memiliki tuntutan dan tanggung jawab yang lebih besar. Dan bagaimana menjadikan mereka terpelajar, itulah bagaimana kita sebagai yang terpelajar mencari cara dan upaya dalam mengatasinya. Berapa level itu kecil dan terabaikan, ia akan menjadi bisa kobra, menjadi bahaya yang siap mematuk kehidupan kita di waktu tak disangka.

Mengenai cinta, kau telah menyadarkanku betapa bodoh caraku mencintai. Betapa aku tak peduli. Aku mengakui dengan hormatku sebagai lelaki, kau telah berikan kekuatan dan sengatan untuk perubahan-perubahan dalam kehidupanku nantinya. Meski aku sesungguhnya takut dan benar-benar dalam ketakutan yang dahsyat pada saat kau berkata masa depan kita tak ada yang tahu, karena kau bisa saja tinggalkan aku dengan tiba-tiba seperti Tuhan mencipta dan mengambil nyawa atau bisa saja kau kembali kepada bintang-bintang tempat kau dulu pernah bergantung padanya dan tersinari cahayanya yang penuh, hangat dan peduli.

Kehidupan ini buatku hanya menjadi dua bagian. Pertama, kehidupan untuk dirinya sendiri. Kedua, kehidupan untuk bersama__membagi kehidupan yang ego menjadi lebih toleran dan dewasa. Masa-masa kita yang pertama hampir usai, tiba masa bersama, masa yang diikatkan dan diperbangunkokohkan oleh otorita alami manusia. Dan inilah panjang cerita dan sesuatu yang ingin kukatakan padamu, mimpi, masadepan, cinta yang benar-benar tidak cengeng, tidak murah dan sampah.

Keyakinan ini adalah keyakinan, bukan langit antara kemarau dan hujan. Kita dipertemukan oleh pikiran itu sendiri.

Tidak ada komentar: