Sabtu, Agustus 02, 2008

Kosong

Dalam urusan ini, seolah jiwaku menyundul atap langit. Tapi, pada suatu saat jiwaku juga remek di dasar jurang terdalam.

Apalagi, kalau bukan urusan perasaan. urusan yang sama persis dengan yang dialami adam dan hawa. Cinta. Kekuatan dan kerapuhan bersatu, ya, memang kita terbolak-balik, bagai roda motor di tong-setan, pasar malam kaum terbelakang, di lapangan, di musim hujan.

Aku tak ingin terlepas darimu walau sekejap saja. Agustus musim debu musim tanpa air-mata langit. Tapi malam ini malam minggu, ketika puisi-puisi berterbangan di layar ponsel. Ketika perempuan merasakan aman dalam pelukan kekasihnya. Aku sendirian, bangku nomor 19 dari 21 urutan bangku bioskop-bintaro, mummi seri empat.

Kecemburuanku benar-benar hingar, sama dengan runtuhnya titik-titik hujan dari langit malam ini yang panjang. Yang riuh. Di dalam angkot putih s:10 mataku kosong, Yang kulihat adalah kaktus kering di tengah gobi. Coklat, biru dan batu. Yang kutatap adalah orang tanpa kepala, mobil melaju tanpa pengemudinya.

Aku pun kembali. Sepi.

Tidak ada komentar: