Sedang hidup terus melaju dengan segala bagian-bagiannya yang baru.
Berjumat-jumat lamanya saya menunggu beliau naik mimbar, tapi tak kunjung muncul juga lelaki sepuh berpeci putih itu. Setiap tengah siang hari jumat saat saya sedang di rumah, setiap itu juga bukan beliau yang berkoar di balai mimbar. Ataukah kesehatannya makin memburuk setelah beberapa tahun lalu kepalanya cedera karena terjatuh saat mengendarai sepeda motor usai memberi pengajian di masjid kota?
Saya mulai cemas.
Saya lahir, beliau yang menyematkan nama saya meski saat itu keluarga kami belum mampu selamatan, apalagi menyembelih domba untuk aqikahan. Tapi betapa mulianya agama saya, jika dalam berkurangan, selamatan sembelih domba bisa diulur sampai berkesempatan. Ya, 13 tahun sejak kelahiran, saya baru diaqikahi berbarengan dengan tanda baligh usia saya, khitan. Beliau yang mendoakannya juga.
Setengah jam sebelum azan jumat saya tanya pada bapak,
" Beliau kemana saja pak, tiap kali saya jumatan, melulu bukan beliau yang khutbah di mimbar?"
"Beliau ada kok, masih sehat saja. Mungkin saja kamu ga ngepasi jadwal khutbah beliau"
"Oh, barangkali pak. Padahal dulu tiap jumat selalu beliau yang khutbah kan, Saya rindu beliau".
"Ya apa boleh buat, tenaga tak bisa berbohong pada usia"
La ilaha illallah... Azan jumat usai kumandang, saya baru saja masuk masjid, suaranya yang bergema tanpa treble itu. Ah, beliau, kyai Slamet!
Beliau berkhutbah, irama khutbah beliau memang agak cepat daripada umumnya seorang penceramah yang tanpa teks, namun pesan yang beliau sampaikan selalu saja menggebuk kesombongan saya. Dan terus selama bermenit-menit lamanya, air mata saya mencucur, jatuh mengaliri pipi lalu membentuk warna lain di kemeja, mata saya mengatup, saya tak peduli apakah orang lain akan merasakan hal sama seperti yang saya rasakan di tengah siang di mesjid kampung itu.
Dan sungguh manusia, di saat hatinya terbuka ia akan ingin dan selalu terus mendekat kepada Tuhannya, tapi pada saat yang bersamaan ia gamang, ia terjengkang di tengah jembatan pertanyaan... di waktu yang berbeda bisakah dosa tak berulang-mengulang? sedang catatan tak pernah bisa sobek dari pautannya, karena dosa dan amal pada akhirnya nanti adalah jalan panjang menuju hasil eksekusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar