Senin, Maret 17, 2008

Bangsa Besar Kami

ada beberapa jalan bagaimana sebuah bangsa lahir. ada yang lahir dari proses kemerdekaan yang biasa, tanpa perlawanan dan perjuangan, tapi juga ada yang lahir dengan darah yang pecah. proses yang sama seperti kelahiran jabang bayi dari rahim ibunya__hal yang wajar dialami oleh setiap manusia, setiap hewan juga. adapun yang lain mesti dibelah, dikeluarkan dari jalan yang tak semestinya.

bangsa saya adalah bangsa yang lahir murni dari pasal dan hukum alam yang benar-benar suci. dari darah merah yang muncrat, dari ketulusan melawan yang tak benar dan kehormatan. proses yang tak dialami oleh bangsa di tempat saya tinggal saat ini. bangsa kerdil, miskin moral dan pencuri. memang mereka memiliki segalanya, kecukupan setiap rakyatnya untuk melangsungkan hidup dengan memberi pinjaman-pinjaman dengan syarat yang sangat mudah. sarana transportasi dan pendidikan mulus, tanpa bolong, seperti aspal di sepanjang pantura kita__ meskipun dicor sedalam satu meterpun akan tetap ambles. sebab tronton yang kian hari kian berat atau memang semen yang dimaling dengan cara pemalsuan laporan? god knows.

tapi mereka lahir dari nasionalisme etnis, nasionalisme semu dan sementara. nasionalisme tanpa darah dan peluh. bukankah nasionalisme etnis adalah nasionalisme yang mudah runtuh, secara ekonomi memang mereka saat ini unggul dan stabil. tapi bukannya suatu saat krisis juga menerpa? saatnya demam demokrasi juga bakal tiba? mereka bisa toleransi atas nama ekonomi, tapi bangsa saya lebih dewasa toleran dalam pesona hati.

bangsa saya benar, dalam kondisi yang terus tak menguntungkan di berbagai bidang (krisis) tetap tegar. karena kami memang lahir dari persetubuhan sumpah para pemuda, diwaktu itu. dengan kesatuan bahasa, betapa kami beraneka etnis dan suku, tapi tetap satu. tumpah darah kami hanya di tanah dan air yang satu. saya bangga dengan bangsa saya, bangsa yang oleh presiden kami yang pertama disebut sebagai bangsa yang besar... bangsa yang selalu dirundung persoalan, tapi persoalan bukan lahir dari kesalahan fatal sebuah pedoman, tapi manusia. kerusakan pedoman awal sukar dibenahi, tapi kerusakan manusia bisa berubah oleh waktu.

biarlah, kami miskin untuk sementara waktu__ sebagai khidmat kami, bagi generasi dilain waktu.

Tidak ada komentar: