Selasa, Januari 29, 2008

Ke Bromo




sabtu siang

pulang dari les jam sembilan pagi. karena ada teman sekos mau ikut, tap dia ada ujian, aku menunggunya. tak tahan menunggu, aku online sebentar. browsing spot-spot menarik yang akan kubidik nanti, di bromo. ada beberapa spot menarik, kuingat-ingat benar letaknya. jam sebelas siang, rupanya teman yang tadinya kutunggu mengurungkan berangkat karena alasan tertentu. agak dongkol juga, aku pun berkemas cepat-cepat, di malang aku sudah ditunggu.

kupacu motorku lebih ngebut dari biasanya. hujan di jalanan ngantang dan pujon kutebas saja. sampailah malang satu setengah jam perjalanan. benar, dimana-mana orang selalu ngaret. yang katanya aku sudah ditunggu, ternyata yang nunggu masih kesono kemari, ada yang ngopi ada yang di kost teman dll. waktu hampir beranjak sore yang kutakuri terjadi juga, malang hujan sore itu. tapi toh niat terkadung bulat. empat vespa dengan setiapnya dua orang dengan berbulat mantel siap, kami berangkat.

pom singosari, vespa isi amunisi. jalanan banjir beberapa senti, satu vespa mogok, tanpa aba-aba semua berhenti, tepat di depan penjual ketela di samping jalan besar malang-surabaya itu. ternyata kabel koil konslet. dipo, skuteris serba bisa, berkat tangan dan tampang dinginnya semua teratasi. sampai purwodadi, yang disitu juga terletak kebun raya-nya, kami ambil kanan. jalan beraspal itu tak terduga sangat tidak aku inginkan. sempit dan bergelombang. dan akhirnya naik turun-naik turun. aku masih dibonceng si dipo, meski tangan gatal juga buat joki vespa, tapi aku sadar jalan yang bakal dilalui bakal sukar dan belum kukenal dengan baik.

terus dan terus menanjak jalan raya itu, semakin sempit, semakin berkebun dan berhutan. perkampungan makin jarang, sedang jalan mulai rembang dan berkabut. vespa-ps yang dikendarai dadang, yang tadinya mogok, adalah cikal bakal penyebab molornya perjalan kami nantinya. dan, kali itu pada tanjakan yang benar-benar ekstrim, mogok! dipo membenahi, akhirnya jalan lagi dan selanjutnya dari berangkat sampai pulang aku dan dipo selalu jalan di urutan paling belakang. sedang si lupus, dengan vespa ber-sespannya sebagai penunjuk jalan. dia dan dipo termasuk pejoki tangguh, jawa bali sumatra pernah dikitarinya.
sedangkan aku? jawa aja baru setengah-setengah, bali? sumatra apalagi?

sabtu petang

selepas maghrib, kami sampai di pertigaan di dataran tinggi tengger. aku lupa nama dusun itu, disitulah pengunjung-pengunjung bromo dari pasuruan dan malang bertemu. penanjakan, disitu semua orang yang punya mata bisa menikmati matahari terbit. sebelum siang terik, orang-orang akan turun ke bawah, melihat kawah bromo. nah dari pertigaan tersebut selain menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung bisa menyarter jip hartop. akhirnya kami memutuskan mendirikan tenda di penanjakan. sehingga tatkala sunrise tiba kita tidak perlu jauh-jauh lagi berjalan. dengan tangkas tenda dapat diberdirikan, tikar, sleeping bag sebagai alasnya. ternyata dinginnya lebih dari yang kukira! puncak sinai di musim kemarau belum seberapa, kata si ibu penjual kopi, cuaca seperti penghujan ini lebih mending dan belum seberapa kalau kemarau tiba. seperti apa ya? tak kubayangkan.

malang nasibku, karena lelap duluan akulah yang tergusur. ternyata aku berada paling samping, berhimpit kain tenda yang telah basah oleh embun. akhirnya sesak napasku kambuh, dadaku tak telalu kuat terlentang diatas dingin sebegitu rupa. satu tenda itu kami isi dengan tujuh orang. lima orang berjejar, dua lagi tidur menyilang dibawah kaki kami. semua-muanya berlomba mendapatkan tempat tertengah, biar hangat. didalam tenda yang mulai pengap, aku keluar, oh. dingin, aku terkentut-kentut. beberapa teman didalam yang ga bisa tidur terkikik. bisa jadi mereka berterima kasih padaku, aku tak kentut dalam tenda, yang tentu bakal jadi bencana kalau sampai terjadi.

dadang, memberiku inhaler. obat sesak napas yang semprotkan ke mulut itu. serentak aku menolaknya, walau seperti bagaimanapun napasku sesak, aku tidak akan menyentuh benda itu, aku takut kalau menjadi ketergantungan. sambil aku tahan untuk tidak banyak tertawa, aku ambil nafas teratur, sesak napas itupun akhirnya tumpas juga. aku melanjutkan tidur, tergeser posisi, kini tidur dibawah kaki-kaki. aku terlalu meremehkan dinginnya bromo, tak banyak perbekalan kubawa, dan inilah akibatnya.

minggu pagi

jam empat pagi suasana diluar tenda tampak gaduh. rupanya makin malam dan makin pagi semakin banyak pengunjung tiba di penanjakan. mereka mungkin menginap di rumah-rumah penduduk hotel-hotel kecil yang disewakan. tidak seperti kami yang bertampang kere, tak apalah tampang kere asal dompet duitnya berlipet-lipet, lipetan seribuan hehe.

aku bangun dan keluar dari tenda dan kupersiapkan kamera. suasana masih terlihat gelap. oh, rupanya di beberapa langkah tak jauh dari kami mendirikan tenda ada sebuah tribun yang disitu pengunjung bisa melihat sunrise dan pemandangan bromo, gunung batok dan semeru yang setiap lima-belas menit sekali mengeluarkan asap yang membumbung di angkasa, seperti kepulan asap rokok bapakku di beranda rumah setiap pagi.

tak lama, langit tampak kemerah-kuningan, diatasnya langit mulai membiru. aku bakal dapat moment bagus, pikirku. dan yang kuperkirakan salah-telak. langit ternyata tidak bersih, awan-awan tipis meratakan setiap penjurunya. aku tak terlalu suka dengan sunrise atau sunset yang membikin sesuatu didepannya menjadi siluet. yang kusukai adalah moment tiga jam setelah matahari terbit dan tiga jam setelah sebelum matahari tenggelam. jika penempatan objek daripada jatuhnya cahayanya pas, maka akan kita dapat hasil photo yang menarik. langit dalam keadaan normalpun akan sangat-sangatlah sempurna dalam kebiruannya.

aku jadi bingung, saat kubidiki gunung batok dan semeru, tingkat cahaya berbeda. jika kuterangin batok/semeru makan langit akan menjadi over-exposure (karena putih tersaput awan). nah jika langit kugelapkan, maka batok/semeru bakal kegelapan. pada akhirnya fenomena tersebut bukan persoalanku semata, beberapa orang yang kudapati membawa kamera profesional pun mengeluhkan hal serupa. setelah sebelumnya mereka kusalami dan kuajak kenalan, seorang dengan kamera high-class itu namanya bung ricky, orang jakarta. singkat kami kenalan dan ngobrol eh dia member fn juga. setelah kusebutin nama-nama temanku, ia ternyata juga kenali. lain halnya dengan kris, pemuda asli malang berbadan boros itu selain member FN ternyata ia tahu kalau aku seorang member fn yang suka jepret padang-pasir di mesir sono. weh, ada yang ngenal aku juga ya? (ya iyyaa laah, cakep kok... narcis!)

puas bidik-bidikan objek, akhirnya bidik diri sendiri dan teman-teman sebagai dokumentasi, sebagai kenangan, yang lebih jauh terkenang daripada kata penjual edelwis... mas beli bunganya ya, buat kenang-kenangan. makasih cak, photo-photo ae wes cukup, ujarku pada lelaki muda itu. penyebab ia ngeloyor pergi dan bergumbul dengan teman-temannya, seraya ngedumel entah dengan bahasa tengger yang aku tak fahami sama-sekali.

jam delapan lewat setengah. tenda kami rubuhkan dan kami bereskan. kami turun di warung kopi, dekat vespa-vespa kami parkir semalaman. minum milo hangat sembari ngepul marlboro. uhug uhug, sesak napas sisa semalam masih ada, belum reda juga. tak lama kamipun turun, seperti orang di sepanjang jalanan malang ke bromo itu juga, orang tengger juga tampak simpatik dengan rombongan kami yang mengendarai vespa. enak dan tanpa beban mungkin pikir mereka tentang kami. tapi kenapa ambil pusing dengan sangkaan orang.

betapa sedikit orang tak berpunya berlagak punya, dibanding dengan orang berpunya yang berlagak tak punya.

orang-orang vespa lebih kukenangi sebagai orang yang memiliki persaudaraan kuat. status sosial, keturunan, tak memiliki peran. mereka sama. mereka saling dibutuhkan dan membutuhkan. mereka menjembatani jurang-jurang pemisah. saat touring, mereka mengendara dengan standar yang sama, berapa sih kecepatan vespa? paling tak sampai 100km/jam. saat vespa teman mogok, mereka berhenti tanpa dipaksa. saat rombongan berjalan, jika jalanan berlubang, maka pengendara yang terdepan akan memberi aba-aba kepada yang dibelakang, begitupun saat tikungan tajam, atau jalan licin dll.

minggu setengah pagi-setengah siang

jalan menuju bromo itu sangat-sangat curam, jalan kendaraan tersempit dan tercuram yang pernah kulewati. aku yang berada paling belakang bisa menonton betapa susahnya teman-teman didepan mengerem, mengendalikan kendaraan mereka. tuas rem yang dibejek pun tak mengehentikan laju. sedang jurang-jurang sangat dalam, jika seorang pengendara terjun, aku yakin benar ia pulang cukup dengan nama! soal kendaraan yang remuk, itu tugas pak/bu polisi yang hobi cari ceperan. kan menurut voting akhir tahun lalu, satlantas-kepolisian adalah lembaga terkorup di negeri ini.

lancar melewati jalanan curam. kami sampai di padang berpasir dan berilalang. lagi, vespa dadang bermasalah, kali ini seling-kopling putus. alamat sudah! ternyata di boxnya dipo, ada seling gas, terpasang dan bisa jalan. tapi perjalanan jadi terhenti, kami berpoto-poto lagi, satu-persatu, bersamaan dan dengan segala macam posenya.

sampai kami di parkiran kawah bromo, inilah (lagi) enaknya ber-vespa, sementara kendaraan-kendaraan lain membayar uang parkiran demi keamanan, kami cukup menggeletakkan vespa-vespa itu di tempat yang bukan parkiran. tanpa bayar uang keamanan, toh siapa juga yang bakal ngambil vespa bobrok dan ga njaman itu. tanpa disadari yang menjadikan wah dalam pengendara vespa adalah persaudaraan itu sendiri. bukan wujud fisik vespa semata.

seperti jamak yang lain, dengan kaki kami naik ke puncak kawan bromo, meskipun ada juga dengan menunggang kuda dengan ongkos 50 ribu. aku masih ingat saat tiba-tiba nyeletuk pada empunya kuda sewa, uang 50 ribu bisa buat ongkos bolak-balik bromo-malang pak!. lagi-lagi, maning-maning, si bapak ngeloyor dan ngedumel ke temannya dengan bahasa planet itu, bahasa tengger yang aku tak paham blas!

sampai di puncak, kami bisa menikmati kawah menyembulkan asap dan baunya. seperti bau kentut yang diledakkan seorang teman kami di tenda semalam, bukan kentutku yang diluar tenda. ya, akhirnya kami sadari, bau kentut semalam persis seperti bau belerang! kentutnya si dipo!

kami tak butuh waktu lama berada di puncak tersebut. kepala tak tahan dengan kepeningan masing-masing, bau belerang sangat tak enak. baunya persis sama seperti perjalananku tahun 2002 lalu di tangkuban perahu. berdokumentasi, berpoto.

minggu siang

semua bersiap pulang. lagi dan lagi, vespa dadang mogok! pengapian vespa nihil. mana mungkin bisa menghidupkan busi? setelah ditelusuri dipo, kabel dari koil ternyata tidak terikat, hanya menumpang saja. perjalanan pulang, akhirnya aku joki juga. mengendarai kendaraan di jalan penuh pasir membuatku berkali-kali terjungkal. setiap terjungkal seketika itu bangun dan bangun lagi. aku tak terbiasa.

di turunan yang tadinya curam itu, kami mesti tanjaki. betapa ngerinya, lagi lagi dan lagi vespa dadang mati saat menanjak di tanjakan pertama. padahal tanjakan-lain masih panjang. dan kali ini benar-benar butuh waktu lama. kondensor vespa ternyata busuk! berkali-kali vespa dinyalakan ternyata suaranya mengembik-embik saja. sedangkan kondisi badan mulai tak sehat, semalam kedinginan, di bromo kepanasan sementara angin menghembus kencang dan dingin. akupun terkantuk-kantuk sambil membantu sono-sini. dan aku terkapar di pinggir jalan, lalu lalang orang-orang tampak simpati pada kami. dengan baju-baju kumel, motornya vespa lagi, pikir mereka yang kucoba jamahi.

dalam tidur ayam, aku tergesiap. vespa sudah bisa meraung, dengan mentutak-atik dan mengakali sana-sini. aku teruskan menjoki dan dipo dibelakangku agak ngantuk sepertinya. saat berangkat banyak jalan yang kami lewati begitu menanjak, kini jalanan itu mesti kami turuni. betapa sering dalam tikungan aku hampir terjebur ke jurang gara-gara mengandalkan rem belakang doang, kampasnya habis terbakar lagi. tak ada cara lain selain pintar memindah porsneling. memindah gigi satu dan dua. pada akhirnya bromo sudah kutaklukkan, dan sekarang tinggal pulang, kembali ke malang.

sampai di purwodadi, di jalan-raya malang-surabaya yang sibuk itu, cuaca panas menyengat. cepat-cepat aku harus sampai malang sebelum hujan. karena mendung tampak melawan dari arah selatan sana. lepas pasar lawang, kami sempat berhenti minum es rumput laut. dan mungkin gara-gara es rumput itu aku kehujanan. hujan deras mengguyurku, tepat di tempat kemarin kami berhenti di depan penjual ketela. akupun berhenti meneduh di halte bus, wajah kemerahan sebab panas, dan kumel tak mandi 2 hari, seorang perempuan cantik yang lebih dahulu duduk disitu memandang kami aneh, barangkali juga jijik, ada juga orang seperti ini.

gantian, saat hujan reda, vespa kami mogok. kabel koil putus. kami benahi akhirnya bisa jalan lagi, badan mulai tak enak. mengalahkan ke-ekstrim-an panas, dingin, lalu panas, lalu diguyur hujan lagi. aku yakin aku bakal terkapar nanti. sakit, padahal candaku pada teman-teman... kita tak boleh atit, kalo atit ntar dimarahin ayang... (:p)

minggu sore

sampai malang, di depan kontrakan teman-teman pada beres-beres, ada juga yang tidur-tiduran. akupun bereskan tas yang kutitipkan ke sespan (gerobak buatan di samping kiri vespa). lalu apa yang terjadi? tasku terjatuh dijalan! aku tak melihatnya meski aku berjalan paling belakang, bisa jadi waktu uun sempat di paling belakang sementara aku depan, tas itu jatuh!

berisi charger hp, mp3 player, tutup lensa/kamera, charger kamera... harganya gila banjed :( untung aja bukan kamera! aku ikhlaskan semuanya. perjalanan butuh pengorbanan. dalam gerimis, aku nekat pulang, ke kediri. sampai kamar, lelap dan perkiraanku keliru. badanku tak se-drop yang kusangka. kutatapi dokumentasi, lebih romantis, lebih puitis dari bunga edelwis, lebih daripada tas yang jatuh-hilang.

(thanks to myfriends, samiun, sudipo, subo'im, sudadang & sudedi... cause you all i saw bromo exotic view and your greatest brotherhood)

Tidak ada komentar: