Beberapa hari ini aku mengulang untuk membaca "Bumi Manusia''. Ada kata-kata pokok teramat sayang untuk dilupa. Walau secara tak langsung mengubah keadaan hidup yang dialami oleh manusia. Tapi setidaknya bisa menjadi perangsang idealisme. Untuk kembali menjadi gerak. Menjadi Api. Sampai-sampai aku mesti mengulang gumam usang, berapakah banyak orang yang membaca buku tapi benar-benar membaca ? Orang membaca satu, dua, tiga kali kadang tak paham pokok bahasan apa yang harus digaris bawahi dan dicerna. Tak ada kelirunya kalau aku membaca lagi.
Pagi awal september. Menjelang subuh.
Tulisan-tulisan bersambung yang dirangkai Dahlan Iskan, empunya Jawapos, juga aku baca belakangan. Bukan karena Dahlan Iskan orang asli kampungku, atau juga karena ia kawan bapakku waktu masih di pesantren desa dulu. Tapi lebih karena saratnya pengalaman dalam hidup, sebagai alasan aku membacanya. Aku senang sekali membaca catatan-catatan ringan orang yang telah sukses. Seperti tak ubahnya kesenanganku membaca ulang buku-buku sejarah dan catatan-catatan perjalanan orang-orang besar. Karl May, Milan Kundera, Ernesto Guevarra, Ahmad Wahib dll.
Bukan berobsesi menjadi orang besar. Tapi bukan keliru jika bermimpi menjadi orang besar, sesekali. Dalam catatan ke-10 yang dimuat berseri di Jawapos lalu, tulisan : hidup lalui saja seperti air mengalir, jika air tersebut deras, deraslah kita berlari, jika lamban, kita hanya mengikuti iramanya. Ya, memang seperti itu kupikir. Tidak terlalu mempermuluk suasana. Kalau kata kawanku, Aguk Irawan yang menjelang angkat kaki dari Mesir dulu ber-sms padaku : Hidup tak ubahnya daun, kawan, sekedar menghela angin, menunggu hujan dan jatuh ke tanah. Jangan berduka, lalui saja.
Waktu itu memang kupikir Aguk agak pesimis memandang hidup. Tak ada lompatan. Aku kurang begitu suka. Tapi laun-lamban, memang harus diakui, tak ada gunanya berkenang-kenang atas masa lalu, hadapi saja hari ini, juga esok. Toh semuanya juga berlari menuju mati.
Pagi masih di awal september. Menjelang subuh. Lagi.
Lagi-lagi Dahlan Iskan menuliskan memoir masalalunya tentang Takeran. Dusunnya. Dusunku juga. 6 KM tak jauh dari pusat kota kecil, Madiun. KH Hamim Tafsir. Aku kerap mendengar nama itu. Biasa kawan-kawan kecilku menyebutnya Mbah Mim. Kiai kharismatik, waktu kecil aku kerap hilir-mudik di belakang rumahnya. Saat hendak renang di Kolam di belakang pesantren yang ditumbuhi banyak pohon kelapa menjulang dan besar-besar. Entah aku tak tahu pohon-pohon kelapa itu masih ada atau tidak. Konon, kata ibu pohon kelapa di dusunku kini pada mati, dimakan wangwung. Andai waktu itu aku tahu kalau ia pintar Ilmu Kalam, sudah barang tentu aku akan khidmat di depannya. Berguru hidup padanya, bisa jadi. Tapi ia keburu mati.
Begitulah hidup yang kadang dirasakan tidak ada keadilan. Ada sesuatu yang hilang begitu saja saat ini, tanpa kita sadari dulunya bahwa sesuatu itu sangat dibutuhkan saat sekarang. Aku membayangkan kalau ilmu langsung ditumpahkan pada otak manusia secara total, tidak berangsur-angsur. Apa jadinya, ya ? Ataukah dengan begitu itu bukan hidup ? atau memang hidup sudah dirancang untuk berangsur-angsur begitu ? menyempurnakan kerja orang-orang terdahulu yang belum purna ? Bisa jadi. Ah.
Ya. Ini kan bulan akhir aku disini. Aku akan pergi, aku belum mencatatkan apa-apa disini. Tapi bukan berarti aku memaafkan kemalasan. Aku masih tetap menulis catatan harian di folder "Catatan-Catatan Dari Mesir". Suatu saat akan kuringkas ulang, kususun, kusunting, kujadikan memoar. Siapa tahu ada guna, sebelum mati. Di halaman yang bernama "morchaen.blogspot.com" ini, lengang. Dan kurahap akan tetap begitu. Aku suka sunyi, biar bebas berbicara dan bergumam.
Mesir... Mesir... Mesir... Entah siapa kamu. Dari matahari ke matahari aku belajar memahamimu. Tapi terlalu sukar aku tahu siapa kamu. Kamu sekedar menarik perasaanku untuk selalu tentram di dalammu. Tapi aku tak pernah tahu, cara bincangmu tentang musim-musim, tentang gurun dan batu-batu cadas yang kokoh bagai gedung metropolitan. Kamu memang nakal dan binal.
Hufgh. Subuh datang begitu saja. Suara-suara Azan menyahut-sahut. Aku menerima panggilan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar