Sabtu, Agustus 18, 2007

Tengah Bulan

1.

Hari ke-empat belas bulan ini. Sewajarnya manusia, aku gerah. Musim panas di petalanya ? Bukan, panasnya musim masih bisa diakali. Tapi siapa yang bisa mengakali gerahnya nurani, jika keadilan telah dicampakkan begitu murah dan tidak berharganya. Mendidih, menggelegak hati kecil tak dapat ditolak.

Kekerasan dari sebab yang amat sepele telah pada puncaknya. sepakbola dimana adalah ajang sportifitas tim menjadi tujuan, melenceng jauh. Sifat-sifat kolot akhirnya nampak, yang kota makin ngota. yang kampung makin kampungan. Aku tak habis berfikir, apakah sifat bodoh itu hanya dilakukan oleh orang kampungan ? Aku sendiri orang kampung dan ndeso, tapi aku masih bisa berfikir jernih. bahkan kyai di dusunku masih lebih jernih dalam berfikir. Jadi, kebodohan tidak mesti dilakukan orang kampung.

Lalu jika ada orang yang ber-embel-embel mahasiswa - bahkan diplomat. Dengan ketinggian ilmu, wawasan dan kewewenangannya justru menjadi penghalang tegaknya hukum, penyebab lumpuhnya keadilan? apakah mereka harus disebut orang yang sehat ? tidak ! kufikir. mereka semua adalah sampah rakyat, yang mestinya segera dibersihkan. Segera dimusnahkan.

Kegeraman ini telah meretakkan gigi.

2.

Kairo baru, adalah Kairo dimana orang-orang modern begitu sibuk dengan kemoderenannya. Bau-bau Ke-rasulan seperti musnah. Kitab-kitab lama semakin dibaca rayap, di deretan perpustakaan-perpustakaan yang jarang dikaji. Lalu mesti membanggakan apa jika situasi telah seperti ini ?

Agama telah menjadi simbol-simbol yang mitos belaka. Nama-Nya banyak tertulis dimana-mana, tapi umpatan menjejali mulut penulisnya. Masjid-masjid memang ada yang mengisi. Tapi perilaku manusia tak bisa berdusta, tapi perbuatan tak bisa membohongi. Sangat dekatnya hati dengan perilaku. Seperti panas dengan api.

Aku terhenyak hebat, kebenaran bukan berkutat hanya kepada tempat.

Tidak ada komentar: