Senin, Juli 16, 2007

Tunggu Aku di Konstanta

Sebuah Kisah


"Tiga hari lagi aku kembali ke tanah airku, aku akan bertolak, kita akan berjumpa lagi"


Aku hanya mengetahui Romania dengan pemain-pemain bolanya, yang terkenal, gagah dan tampan itu. Romania negeri yang jauh, negeri yang berjiran dengan kroasia, hungaria dan bulgaria. Meskipun beribukota Bucharest, tapi konon katamu kota konstanta adalah tetap kota yang paling romantik, puitik dengan arsitektur lama yang menarik. Disitu yang tak jauh, laut hitam melabuhkan riak-riak airnya.


"Aku lahir di Konstanta, aku harap nanti kamu bisa kesana"


Pesan terakhir, ketika senja memayung di taman bunga. Aku sendiri berfikir, mana mungkin aku bisa kesana, ke negerinya, untuk pergi ke mesir saja aku harus menjual segala yang kami miliki. sepeda motor, sepetak tanah, juga sapi betina yang dititipkan kepada tukang angon di desa, dekat gunung lawu. Mana mungkin aku akan pergi ke eropa, mana mungkin aku kesana ?


"Yakinlah, jika kamu mempunyai ingin, jadikan itu tujuanmu,"


Iya, kamu bisa bilang demikian, tapi apa mungkin aku bisa kesana, sedang untuk hidup saja aku mesti jatuh bangun untuk berkelit dari kefatalan dan serangan ketakmujuran, bisa dibilang aku hanya berlaku defensif terhadap nasib, tapi aku tidak pernah merasa ofensif, aku tidak pernah mengejar nasib terbaik, tapi aku hanya berupaya untuk menghindari nasib terburuk. Aku sempatkan bertanya waktu itu, apa yang kamu kerjakan, setelah belajar bahasa arab satu tahun disini ? (dia memang hanya satu tahun disini, mempelajari literatur dan kultur arab lama)


" Aku akan menulis, menjadi penerjemah teks-teks kultur dan literatur".


Oh, tidak. Aku begitu percaya diri saat mendengar jawaban itu, kita sejodoh, kita bakal sejiwa. Oh kenapa ? iya, aku tersadar aku juga mempelajari literatur arab, mempelajari sajak-sajak jahily, sejarah dan peradaban mereka yang tua. Tentu kita bakal mengagumi arsitektur dan prasasti-prasasti di Mar Girgis, di Toloun, atau di Alexandria, tempat Almunsyi sang penyair sufi mati. Iya, kita hanya bakal mengagumi saja dalam perbincangan.


Atau seperti tadi pagi, saat aku membayangkan seandainya kita telah berkenal lama, pastinya kita bakal telah menyambangi puncak pegunungan suci, Sinai. Mengantarkanku menjepret gurun yang luas, padang pasir yang menjadi "cinta pertama"ku, awal aku bisa mengabadikan momentum, dan dihargai. Tapi aku hanya membayangkan saja, aku tidak bisa lebih daripada itu untuk saat sekarang.


"Ketika cinta memanggilmu, ikutlah kemana ia pergi" Ucap Sang Nabi.


Tapi kamu bilang, aku mesti meyakini bahwa keinginan adalah tujuan, untuk mewujudkannya adalah sebuah obsesi. Maka aku akan menjawab tantanganmu : Iya ! tunggu aku di konstanta beberapa tahun lagi, tak ada lagi yang mustahil dalam kelana ini. Seperti petuah ayahku ; Tak ada yang mustahil pada setiap hal, jika ada upaya.


"Tunggu Aku di Konstanta"

Tidak ada komentar: