Rabu, Juli 18, 2007

Terbang Tinggilah, Garuda-ku

Sebuah Catatan Harian

Garuda Indonesia adalah satu-satunya jasa penerbangan plat merah kebanggaan bangsa kita, Indonesia. Apapun yang terjadi padanya adalah apa yang terjadi pada kita. Wajahnya adalah wajah kita. Malam kemarin saya tersentak lagi. Garuda yang beberapa waktu lalu tidak mendapat izin untuk beroperasi di langit-langit Uni-Eropa, mulai 4 ramadhan tahun ini juga tidak diperkenankan beroperasi di Saudi Arabia. Padahal rute Cengkareng-Jeddah adalah lahan tahunan paling basah yang mengangkut para jama'ah Haji dan Umrah.

Ah, nasib apalagi yang mesti ditanggung bangsa kita ini. Ketika orang-orang kita di luar negeri selalu dicurigai, selalu direndahkan, disepelekan dan bahkan tak dianggap sebagai manusia yang tak selazimnya memiliki haknya. Saya sepakat dengan wakil DPR yang kemarin lupa namanya, yang ia mengatakan bahwa alasan pihak saudi memutuskan hubungan penerbangan ini semata-mata karena ingin mencaplok rute yang menjadi langganan para haji dan umrah itu. Seperti diketahui, kesepakatan antara Saudi dan indonesia dalam hal angkutan penerbangan dibagi dua,Garuda Indonesia dan Saudia Arabia Airlines. Nah, jika diantara dua pihak ada salah satu yang dirugikan, tentu satu pihak lainnya adalah yang diuntungkan, jadi siapa lagi kalau bukan?

Jadi alasan nyata adalah bukan seperti apa yang pihak Saudi Arabia lontarkan, semata karena mengikuti kebijakan negara-negara Uni-Eropa. Entah lah, Saya semakin muak saja dengan sistem pemerintahan di Saudi itu. Berkali-kali orang-orang kita diperlakukan secara tidak adil. Mulai dari kasus tahun menahun para tenaga kerja, diperkosa, tak diberi gajinya, dan perdagangan tempik terselubung yang dipelihara. Kerja sama dalam haji dan umrah yang selalu dirugikan, kelaparan yang dialami oleh para haji tahun lalu adalah buktinya. Dengan ini adanya istilah yang mengatakan bahwa etos kerja orang-orang arab adalah seburuk-buruk etos kerja manusia di dunia, bukanlah fakta yang harus dibantah dan disangsikan lagi.

Lalu jika harus berbicara atas nama agama ? apakah mungkin seorang islam berperilaku demikian ? saya tidak dalam keyakinan yang benar-benar yakin, bahwa mereka yang duduk di tampuk kekuasaan adalah seorang muslim yang baik. Seorang muslim yang baik adalah yang mampu berfikir dan berbuat dengan akal dan naluri yang sehat. Hasil fikiran dan perbuatannya adalah sesuatu yang selalu menyenangkan semua pihak. Jika kerajaan "turun-temurun" yang berada di Saudi adalah sistem pemerintahan yang baik, maka, tentu tak akan kita temui pihak yang merasa dirugikan. Dalam hal ini adalah Garuda Indonesia.

Mudah-mudah dari dialog yang diadakan nantinya mampu memberikan solusi yang sama-sama menguntungkan dan memuaskan. Terbang Tinggilah, Garudaku. Kami selalu dibalik paruh dan sayap-sayapmu.

Tidak ada komentar: