Rumah lantai enam, pada tiap lantai terdapat dua dua kelokan tangga dengan jarak yang sempit dan terjepit. Tanpa pemanas air, tanpa kotak kulkas bermotor, tanpa penanak nasi dan penghangatnya. Disitulah separuh matahari lalu berdiam, menata alamat demi alamat untuk dilucuti, disitulah aku bergejolak, api besar itu terkoyak-koyak, menghambur ke segala yang ia ketahui, membakar dan membakar apapun di sekelilingnya.
Aku nyaman ? Iya. Aku terasa sangat nyaman disitu. Tapi ada baiknya aku kembali pada rumah dimana pertama kali aku singgah dulu, sampai pada akhir dua bulan mendatang, saat aku harus menghilang dari hadapan ruh-ruh Fir'aun dan Musa yang bergentayangan dibawa debu dan angin panas menjelang senja musim panas kali ini...
Bulan ini aku harus pergi, aku ingin kembali ke hati, mendekati-Nya. Sebelum akhirnya menanggalkan puisi-puisi memori.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar