sebuah catatan harian ;
aku ingin segera mengenalmu, meminangmu, menyatukan kaki kita untuk menuntaskan usia, menjadi anak perempuan pertama bagi bapak dan ibuku, lalu menjadi ibu bagi anak-anakku. letih sudah, kesepian di negeri jauh, keheningan malam yang pahit, dan nyali yang terkadang bagai nyala obor di tengah sawah, di malam yang badai. iya, saatnya aku mesti diam-diam mengintip ketentuan jodoh yang konon berada di balik telapak tangan tuhan itu.
jiwa yang menyala sederhana namun abadi, kelembutan, dan penuh pengharapanlah, wanita yang bakal mempesonakanku. seperti yang kukatakan padamu dulu, kekasihku. aku mencintaimu cukup karena kau begitu sederhana dan apa adanya. wanita yang tak berharap apapun kecuali berfikir bagaimana menghindari secara lihai serangan mimpi terburuk dalam hidup.
dahulu.
kau seperti ibuku, yang tak pernah meluangkan waktunya sekejappun untuk berfikir bagaimana mencapai hal yang bukan kewajibannya, untuk dirinya sebagai ibu bagi anak-anaknya, sebagai istri bagi suaminya. kataku waktu itu padamu di kedai angkringan sebelah timur terminal kota surakarta. tentu kau masih ingat, karena kau dulu yang justru berulangkali mengingatkanku tentang masa itu. masa terindah bagaimana aku mengajarimu untuk tetap mengakrabi semua kalangan manusia.
entah aku yang lambat laun berubah, atau kau yang justru berubah. dimataku, kau tak sesederhana itu lagi, sekian waktu berkecimpung dengan banyak kaum, akhirnya mimpi dan maumu tak terarah. walau dengan alasan karena aku yang tak begitu tahu dengan kesejatian dirimu, sehingga aku bilang kau berubah? tidak ! sama sekali tidak seperti itu. sejak aku lahir & menjadi lelaki ibuku telah mengajariku mempercayai suara hati kecil, dan aku bilang ; kaulah telah yang berubah.
akhirnya, maafkan jika aku harus melangkah sendiri, menyelinapkan waktu dalam hening dan sunyi yang pada akhirnya juga aku kutuki ini.
perempuan dulu yang gemar mengusap sikutku, betapa tahun-tahun belakangan ambisiku mati, bukan karena ketakadaanmu, bukan. aku sendiri juga tak tahu, sampai aku menjumpai orang yang hampir-hampir seperti nabi, baik hati. aku berbicara banyak padanya, mengadu, menimba ilmu menuju ketinggian cita-cita, juga menyerap cara teraman mencapai surga. kata-katanya yang berpetuah, secara tak langsung memenggal kepalaku ; aku manusia pengeluh. aku manusia tanpa idealisme, tanpa kemauan yang kuat untuk mewujudkannya. meski demikian ia tahu kenapa aku begitu, dan ia berujar ;
jika kau terlalu memandang realita dunia, kau tak akan pernah bisa menang! seimbangkan idealismu dan realita yang ada dihadapanmu, niscaya kau jumpai kemenangan dalam hidupmu. yakinlah kau seyakin-yakinnya, nak.
sejak itu aku menyala, terbakar "ingin" sendirian, tapi setiap saat menjelang pagi, ketika do'a-do'a luruh di ambang langit subuh, dan kesunyian menjadi-jadi, mereduplah nyala itu, mengigillah "ingin" itu sendirian. pahit dan nyeri.
keyakinanku pada setiap hal yang telah berubah, tak akan pernah termaafkan. rasa-rasanya seperti sebuah pembohongan. seperti halnya keyakinanmu, mana mungkin angin kemarau berhembus dari barat ke timur ? kecuali ia berhembus dari selatan menuju utara. maka jika ada kabar yang menyelisihi, pasti akan kau bilang, dusta. bukan ? begitulah aku. meski sepenuhnya aku sadar, tak ada yang mutlak benar, tak ada yang paten kekal dalam sifat pada diri manusia, namun manusia memiliki akal, untuk mematenkan, untuk menjadi mutlak. walau tak sampai sempurna.
tetaplah. aku akan menunggumu, berkenalan, bersumpah, dan meraih tanganmu untuk menggamit tanganku, kebanggaan, saat berjumpa sahabat, saudara dan paman bibiku. perempuan yang namamu masih disembunyikan tuhan dibalik tangan-nya. siapapun itu.
usia kita di dunia sama, yang mati duluan, yang lahir terakhir, semua tercakup dalam usia dunia. kita saling menunggu dan bergilir.
kairo, tengah mei 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar