awal pekan kemarin aku sengaja tanya kartu pelajar yang katanya mau dikasih bulan februari. padahal aku menyelesaikan semua adminitrasinya bulan januari lalu. setelah rampung ujian semester. al-azhar siang itu penuh debu sisa, saban hari gedung-gedung yang dibangung pada abad pencerahan itu tampak makin menua. memang, hari sebelumnya terjadi badai debu. kejadian alam yang jadi pertanda musim panas segera tiba.
minggu depan kau bisa kemari lagi, saudaraku. kata salah satu petugas yang mengurusi kartu mahasiswa itu.

ah, sudah lumrah orang mesir janji besok-besok, tapi janjinya baru terwujud setelah satu bulan atau bahkan satu tahun kelak. aneh memang orang arab, konon mereka keturunan para nabi, tapi untuk menemukan orang-orang baik seperti di kitab suci susahnya minta ampun. semakin kuat kata nabi, manusia unggul bukan karena keturunan, tapi ketaqwaan.
dengan rasa ndongkol aku pun keluar dari komplek kampus, sama, seperti ndongkolku seminggu lalu saat naik angkutan umum. waktu itu malam hari, kenek angkutan bilang ... ayo naiklah kita ke kampung tujuh... akupun naik tapi melongo karena di dalam angkutan tak ada seorangpun kecuali sopir dan kenek tersebut.
kita putar sebentar cari penumpang lagi ya... di tikungan balik ia memutar mobilnya menujua halte sebelum aku naik angkutan tersebut malahan.
masyaalloh, apa-apaan ini... kenapa kamu balik lagi ? aku punya hak sebagai penumpang ! dan kau harus mengantarkan aku sampai tujuan... ini masalah waktu, aku ada janjian !!! mereka diam saja sambil mukanya cengingisan satu sama lain. keliatan sekali bersalah. dan kutukanku makin menjadi-jadi setelah aku diturunkan di ruas jalan sebelum sampai tujuan. walaupun mereka memberiku separuh dari ongkos utuh !
khimar (keledai) kau orang ... !!!. aku tak bisa apa-apa akhirnya. untung saja aku tak begitu menguasai pisuhan kalian. umpatku dalam-dalam.
kembali pada cerita. setelah keluar dari kawasan kampus akupun menuju kedai faishawy. kedai kopi bersejarah. kedai yang pertama kali dibangun di mesir. tahun 1722. awal mula kedai di mesir memang tak jauh dari imbas kolonial perancis yang masuk kemari. orang-orang perancis membawa dan memberi pengaruh eropa disamping tujuan politik.
di kedai faishawy itu juga novelis terkenal mesir naguib mahfouz muda nongkrong. begitu juga tokoh-tokoh revolusi mesir seperti mohammad abduh, jamaludin afghani dan saad zaghloul. makin kuat pemahaman saya bahwa orang-orang besar tak jauh dari diskusi-diskusi kecil di kedai-kedai kopi. tengok saja kafka, goethe, hemingway, emha ainun najib dll.kedai faishawy tak seperti kedai-kedai di tanah air kita, disini tak menyediakan kopi. tapi teh dan beberapa minuman jus lainnya. jamak diketahui orang-orang mesir lebih menyukai teh daripada kopi.

kedai faishawy kuyakini adalah salah satu kedai yang diuntungkan oleh sejarah. bayangkan setiap turis yang singgah ke mesir pasti sangat antusias mengunjunginya. karenanya juga, letak kedai faishawy tersuruk di dalam pasar tradisional khan khaliliy, yang masih satu kawasan dengan masjid & kampusku al-azhar, pun masjid hussein yang mana kata orang-orang disitulah penggalan kepala hussein cucu nabi itu terletak. benar tulisan-tulisan yang telah kubaca selama ini... hal apakah untuk masa kini yang paling menghasilkan laba kecuali hasil jual daripada sejarah ???
negara mesir bertahan oleh karena pariwisata, piramida, kuil-kuil kuno, makam-makam, masjid-masjid peninggalan masa lampau. aku dan 2 orang kawan memilih duduk di bagian luar, biar bisa melihat lalu lalang orang, kamipun memesan jus jeruk dan mangga, banyak yang kami bicarakan seperti sebelum-sebelumnya bersama beberapa kawan, kalau biasanya yang kami diskusikan permasalahan budaya, sastra dan filsafat. tapi kali ini hanya berkisar masalah humanistik dalam fotografi.
akhir-akhir ini aku memang sedang jatuh cinta dengan photo hitam-putih. warna sederhana. warna yang menyuguhkan kehidupan sederhana pula.
datanglah seorang wanita penato (tukang tato). menawakan kulit kami untuk dirajah. penato itu biasanya datang dari nubia. daerah yang perbatasan mesir dengan negara sudan. konon juga, ras asli orang mesir berasal dari situ. khas kulitnya yang agak legam. bertolak jauh dengan orang mesir masa kini yang putih bersih dan berhidung mancung. salah satu dampak bertemunya ras arab atau juga perancis. si alex pun manthuk-manthuk (mengangguk) untuk mencoba tato tersebut.
wow tato ? rajah ?. ternyata ini bukan tato permanen. hanya tato temporar yang dalam waktu 2 minggu bisa hilang. lagipun ini sudah ada sejak zaman nabi, dan tentunya tidak mengganggu syarat sah berwudhu. punggung telapak tangan kananku pun digambarnya, membentuk matahari. aku menamakannya 'ain syams. mata-matahari. sedangkan si alex hanya bergambar separuh mata, khas seperti hieroglyph, tulisan mesir kuno. bosan duduk di faishawy, kamipun beranjak pergi sambil tak lupa menjepret objek-objek yang kami anggap humanis di perjalanan.
ke tepian sungai nil kami kesana. gantian beralih menjepret suasana malam di kisaran nil. sungguh selama ini aku merasa heran dan penasaran, kenapa jepretan malamku tak pernah beres, hitungan-hitungan angka shutter dan diafragma selalu meleset. malam itu seperti memang berpihak. mulai dari sunset, sampai untuk mencari sudut ambilnya pun kaki kami nyemplung di sungai. beberapa penjaganya memang sempat kukenal. imad dan rif'at lah yang paling kukenali. rif'at agak tua, yang ternyata ia hafal seluruh isi alqur'an. kami ketahui saat ngobrol usai sholat. kamipun sebetulnya malu mengimaminya.
sedangkan imad lebih muda, ia berjualan minuman ringan di pinggiran nil. tepian nil sangat ramai, apalagi kalau malam jum'at datang. bukan karena tabur sesaji atau apa...seperti di tempat kita. malam jum'at, karena hari libur pekan disini adalah hari jum'at... gampangnya, malam jum'at adalah malam minggunya kita di indonesia. banyak pasangan duduk-duduk di tepian nil atau jembatannya, yang kadang menggelitik isengku. apa sih yang mereka bicarakan ? haha. meski aku pernah berpasangan tapi rasa geliku melihat pasangan-pasangan yang duduk berdekatan itu makin membuncah. aih, pasti curi-curi kesempatan.

rif'at dan imad sangat baik pada kami malam itu. di atas kardus bekas kami menunaikan shalat maghrib bersama... setelah itu kami minum dan ngobrol. sampai tengah malam, kami baru pulang. lagi-lagi kelelahan selalu hilang lenyap ketika hasil jepretan telah aku pindahkan di komputer. aku amati ada yang bagus, tapi lebih banyak yang tak bagus. tapi itulah, pembelajaran. semakin banyak berjalan, semakin banyak pengalaman dan pembelajaran didapatkan. tentunya dengan segala perhitungan.
* tajawul : jalan-jalan **pic terakhir wanita mesir yang saya candid. aha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar