Sabtu, April 21, 2007

karena jauh, makin rindu


#1

lelah dan makin takut ngomel tentang kematian.

kita bicara tentang mimpi sekarang. saban hari jumat dalam mimpiku selalu saja kujumpai ada orang yang sedang sholat atau mengajak sholat. atau yang harus kusadari sepenuhnya, tuhan benar-benar makin sayang padaku ?. dulu aku pernah menulis dan ceritera, saban tidur aku selalu diganggu mimpi. kukatakan mengganggu karena mimpi jarang terasa indah. meski beberapa kawan sebelum tidur selalu bilang, mimpi yang indah ya.

guru setiaku dulu pernah bilang... ada kemungkinan aku dianugerahi sesuatu tak lumrah. yang tak dianugerahkan kepada manusia umumnya. tapi aku sendiri tak langsung jumawa. aku sadar diri. siapa aku ? malam tadi aku bermimpi ketemu nabi daud di sebuah altar istana klasik. terlihat warna coklat berdebu menyelimut dinding-dinding kunonya. ramai sekali suasananya seperti dalam film-film kolosal timur tengah. nabi yang juga anak nabi sulaiman itu kujumpai fisiknya tegap dan gagah,terbalut di tubuhnya kain lebar berwarna ungu tua. tampak berwibawa sebagaimana orang suci dalam perumpamaan-perumpamaan kita.

ana muhammad.

jawab nabi gagah itu sambil tersenyum simpul dan manis, senyum termanis yang pernah kujumpai dari seorang lelaki. senyum seorang nabi. ketika seorang arab badui bertanya menghampiri.

ana muhammad ? saya muhammad ? kok bisa. sedangkan aku sendiri tahu benar dan yakin bahwa orang yang ditanya disampingku itu benar-benar memang nabi daud. nabi yang dianugerahi suara emas dan keberanian itu. bukan nabi muhammad.

tapi kenapa dia bilang "ana muhammad" ?aneh bukan ?. aku belum bisa menerjemahkan mimpi ini. takut terlalu lancang. aku hanya berani berfikir positif pada tuhan yang mempertemukanku dengannya. mungkin, tuhan merindukanku setelah aku makin menjauh dari posisi ia berada. bukankah dalam ritual dan ibadah tuhan sangat teramat dekat ?. aku memang terkutuk. berani-beraninya meluangkan ruang waktu untuk melupakannya.

inilah pertama kalinya aku bertemu dengan orang suci dalam mimpi. dulu waktu kecil aku kerap mendengar teman-teman kecilku bercerita bahwa dari mereka ada yang ketemu nabi dalam mimpi. andai bisa, kataku waktu itu. karena aku memang hanya bisa membayangkan bahwa para nabi itu berbaju putih, mukanya bersinar, lemah lembut tutur katanya, tempat teraman dari segala ketakutan. kekhawatiran dan kebodohan.

#2

lhe... wong sing manutan & ora nduwe ilmu iku, bakal ciloko... dadio wong sing seneng ilmu & kritis nek ora pengen dadi sampah...


kata bapak saat kami memetik cabe di ladang dekat rumah, waktu itu aku sedang pulang berlibur dari bangku pesantren. tempat dimana aku mulai belajar mengakali kerinduan. kecaman yang dimaksud bapakku adalah bentuk manut & bodoh nan berlebihan orang awam pada perklenikan yang mengakar menjadi budaya di desa-desa.

detik ini aku merasa ingin kembali ke masa itu. masa ketika maghrib tiba bapak selalu mengajak ke surau dusun, berjarak 300an meter dari rumah. jalanan becek belum teraspal. sesekali sepeda motor yang kami kendarai hampir terpeleset tanah yang terbecek hujan. aku kecil berlindung dibalik mantel. kegelapan namun sangat nyaman dan aman. sampai di masjid kyai slamet selalu tampak ramah menyambut kami. kyai kharismatik di dusunku itu dulu kurang lebih 11 tahun pernah menjadi tahanan politik orde baru. ia jugalah yang selepas maghrib mengajari inti pokok aqidah. keimanan. aku pun selalu mendengarkan seksama, bukan karena takut dijewer kalau ramai, tapi karena rasa sungkanku yang tinggi padanya. meski teman-temanku dari belakang selalu mencubitiku, teman-teman kecil yang selalu mengajak bergurau.

sesampai rumah, terus wijik (cuci kaki tangan), lalu menikmati ubi yang digulai ibu. masih hangat dan nikmat. orang tuaku ngobrol tentang tetangga yang ini dan itu. aku emoh nimbrung mereka. aku pengin memiliki dunia sendiri. mendekati muka jendela, tempatku sejak kecil belajar melamun dan mereka-reka masa depan. memandang hujan dan berisik suaranya ketika jatuh menghantam daun pisang, daun kelapa, di depan halaman rumah.

merindukan masalalu terwujud kembali adalah wajar dan aku yakin tiap orang pasti merasakannya. tapi aku merindukan cara. cara bagaimana aku mengimani tuhan, belajar memahami sifat tuhan yang kuasa atas segala sifat. dengan sederhana, dengan kepolosan, dengan keluguan, dan mengistirahatkan pemberontakan akal fikiran. sehingga bapak dengan senyumannya akan bisa memahami bahwa kekritisan akal ada waktunya untuk rehat. beristirahat.

tarik aku menujumu
kau pasti mau memaksaku
sebab aku makin menjauh
, aku merinduimu

dalam wujud heningku
dalam wujud lugu-kecilku
aku nafsu-buta padamu
, tuhanku

kairo 20042007


* penggalan dari catatan harian, foto dijepret di sekitar gurun, pegunungan sinai, egypt, februari 2007.

Tidak ada komentar: