nak, esok jumat kawan bapak mau ke kairo. jemputlah di bandara ya, baik-baiklah padanya. dia sudah seperti saudara bapakmu sendiri.
tidak sampai jumat datang. ponsel bututku serak-serak monoponik berdering. tepat saat hari masih rabu. petang.
ini siapa ya ? suaranya asing. tak kukenali. bagiku terkesan ngotot tergesa-gesa. dan aku paling tak suka orang tak dikenal menelpon malah tanya, ini dengan siapa ? aneh kan.
agak kubentak sedikit, lah anda siapa, mau bicara dengan siapa, apa keperluannya ? akhirnya nadanya agak meluntur sembari mengenalkan diri. ia seorang pemandu-wisata. kemudian menjelaskan bahwa ada seorang bapak pimpinan direktorat pertanian jawa timur sedang bertugas kemari. nah bapak itu punya kawan, seorang petani kecil yang anaknya sedang "nyangkut" disini. di mesir.
saya pun dari tadi sudah ngeh sebetulnya, tapi gara-gara suara yang terkesan kesusu itu, bikin saya tak respek. ia pun berpesan. secepatnya datang ke conrad hotel. tempat tamu tersebut menginap sementara.
kebetulan uang menipis. habis, kuakui. norman kawan baik itu kuajak untuk menemui pak suryo. nama tamu itu. naik angkutan tak begitu lama, kami sudah berada di pesisir sungai nil. belok ke kanan sebentar sampailah sudah di hotel yang kami tuju. tanya sebentar pada petugas lobi, kamar 616, dan kamipun bergegas. tak sempat mengetuk, kami berpapasan dengan seorang bapak yang sepertinya adalah orang yang kami cari.
pak suryo ? tanyaku. betul mas, putranya pak kus ? betul pak. ayo mas silahkan masuk dulu. sambutnya ramah.
dari sekitar jam sepuluh sampai jam satu dinihari. kami berbicara luas di kamar hotel bintang lima itu. aih. rupanya dia bukan orang sembarangan. pintar, arif & bijaksana. sedikit orang yang kutemui dalam hidup. anak tunggalnya sedang menempuh belajar di belanda, esok sabtu anaknya datang kemari, untuk diajaknya sekalian umrah.
enaknya jadi orang kaya. kemana-mana bisa semaunya. kata bapakku, nanti kalau umrah, ikut aja sekalian. hah ! pakai duit gambar daun tebu-kah pak ? jawabku bergurau pada bapak saat di telpon itu.
bincang-bincang tentang ekonomi bangsa, ekonomi & politik internasional, karena itu adalah bidang yang ia geluti. juga cerita banyak tentang bapakku yang katanya idealismenya tinggi, seorang petani yang memihak rakyat kecil, berwawasan agama baik. dan tetek bengek tentang bapakku. selama itu juga tak lepas dari persoalan agama, sosial dan budaya yang kami cakapkan.
bila bicara dengan orang-orang tua yang masih idealis tersering aku merasa iri. meskipun dengan jujur pak suryo bilang kalau ia suka duduk dengan anak muda, melihat api semangat yang menyala. tapi malam itu aku begitu riut, aku malu, mungkin karena akhir-akhir ini tak begitu memikirkan idealisme, aku lebih memikirkan kenyataan, logika nyata yang kerap benturan dengan idealis manis. aku teingat sangat, ucapan gibran dalam cinta keindahan dan kesunyian ;
begitu banyak orang idealis, tapi betapa banyak dari mereka yang tak mampu mewujudkan mimpi-mimpinya.
sejak membaca itupun aku kecut memandang idealisme. aku hanya lebih menyukai diam, bergelut dengan ilmu, ya karena aku merasa ada saatnya juga nanti aku harus idealis. mengejawantahkan isi & muntahan fikiran. ah pak suryo, membuatku harus memadamkan kata-kata gibran.
mas han, kenapa orang besar bisa sampai puncak, karena meski orang lain banyak melemparinya batu, orang besar tak pernah berfikir bagaimana membalas lemparan batu, tapi ia berfikir bagaimana bisa mengelak, meninggalkan jauh dan akhirnya si pelempar batu berfikir batu-batu yang ia lempar sudah tak berguna lagi, karena yang dilempari telah menjauh, jauh... bukankah rasul tak pernah mendendam ?, pesannya.
dan masih sangat banyak percakapan lain lagi yang membuat semangatku membara. bagaimana menghadapi hidup, bagaimana mengalahkan nasib buruk. malam larut. akupun pamit mengundur diri. besok. saat ia rampung bertemu menteri pertanian mesir, kami akan bertemu lagi. entah, apalagi yang bakal kami bicarakan nanti. mudah-mudahan strategi untuk masa nanti. amin.
terima kasih, pak suryo atas bincang-bincangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar