Jumat, April 27, 2007

Idealisme II

kedua kalinya aku bertemu pak suryo. setelah membelikan nomor perdana ponsel untuknya. sementara uang sisa yang aku sodorkan ia tolak. sudah simpan saja buat jajan, katanya. meski aku sempat menolak tapi tetap juga luluh.

tidak bersama norman saja malam ini aku berkunjung ke hotel itu. tsabit kali ini ikut. mungkin agak panas, dengar cerita kami, bahwa kemarin kami bertemu dengan bapak yang baik hati. kawan bapakku di dusun.

malam tadi agak terasa menyendat. kami diturunkan bus tak pada tempatnya. terlewat jauh dari halte yang semestinya kami berhenti. menunggu mikrobus yang tak kunjung tiba, inisiatif, kamipun naik taksi. meski rada mahal sedikit.

sampai hotel, seperti keramahan kemarin malam. pak suryo mempersilahkan duduk, sepertinya ia telah siap, terlihat kopi yang baru saja diseduhnya, lalu rokok yang baru saja juga disulutnya.

percakapan kali ini makin seru. karena jumlah kami yang bertambah. mungkin untuk malam tadi yang kami bicarakan lebih menjurus kepada sikap terhadap berbagai kejadian yang bergolak di tanah air. tentang transportasi yang makin tak menjamin keselamatan, bumn yang kian korup, buruh tani dll. mungkin yang agak lebih menarik bagiku adalah masalah kasak-kusuk dibalik bencana transportasi. dalam hal ini adalah perkereta-apian.

betul tidak sih pak ada semacam sabotase dalam berbagai bencana beruntun akhir-akhir ini ? tanyaku.

wah sangat memungkinkan itu, han ! cobalah kamu cermati, di berbagai bidang apa sih sekarang yang tak korup ? gampangnya bisa kamu lihat saat kamu naik kereta, tanpa beli karcispun kamu bisa nyogok masinis'nya. dan itu dengan harga yang relatif murah sekali!

nah, dalam segala hal baru-baru ini kan terjadi pembersihan oknum-oknum nakal. ya bisa jadilah mereka yang bikin bencana-bencana tersebut. semua ini adalah berkaitan kepentingan. dan tentunya politiklah yang bermain.

akupun teringat. november lalu saat mau ke ke jakarta naik kereta. ya mungkin karena ke-premanan bapakku dan kawannya. kami tak membeli karcis sebelumnya. nanti saja diatas kereta api bayarnya, kata bapak. hah ? apa bisa ? kataku. wes ta, lihat saja nanti.

ternyata benar, apa yang terjadi. harga kereta yang mestinya tertera madiun - bandung itu seharga 220 ribu perkepala. kami bertiga hanya membayar dengan harga 300 ribu !!!. apa ini tidak gila ? bukankah dengan begini perum inka bakal merugi ? setelah merugi siapa yang bakal jadi korban ? pegawai kan ? rakyat lagi, kan ? bah, sialan.

tentang agama. pak suryo juga menyikapi orang-orang islam di mesir. memang, di mesir sangat banyak megah berdiri bangunan peninggalan islam. tapi apakah orang-orang dan perilakunya islamis ? tidak ! kejorokan, semberono, intonasi suara yang memekik, semuanya sangat konfrontasi dengan nilai-nilai yang diajarkan kitab suci. benar-benar badui. udik.

dalam banyak hal negatif yang ditemui, banyak pula hal positif yang ia dapati. seperti budaya baca kitab suci dimana-mana, ketepatan menunaikan sholat dll. ah, ternyata kawan bapakku ini dulunya pernah jadi dosen. makin tak heranlah aku dengan argumen-argumen yang ia ungkapkan selama dalam pembicaraan. begitu kuat, akurat.

han. kita lusa mungkin tak jadi umrah. prosedurnya rumit. kata orang kbri disini, alasannya, karena bapak duta besarnya tak ada.

keluhnya saat visa umrah tak jadi keluar. akupun langsung menyahut.

memang aneh kok pak, mereka tak mengabulkan visa umrah, dengan alasan, hanya karena tak adanya duta besar. bukankah satu setengah tahun lebih warga indonesia di mesir tak memiliki duta besar ? padahal dalam aturan yang berlaku bukankah setelah ditinggal duta besar yang lama, harus ada duta besar yang baru dalam rentang waktu maksimal 4 bulan ? dengar-dengar sih jabatan tersebut diperebutkan oleh beberapa partai politik yang berkepentingan.

bah. sialan. hanya untuk kepemimpinan sementara saja, tetap tak jauh dari kepentingan sebuah partai. terhinalah mereka yang berencana. sungguh.

dari jam sebelas malam hingga setengah tiga pagi kami berbincang-bincang. lalu saat kami sadar pak suryo esok hari mesti ada meeting di luar kota kairo. kamipun pamit diri. kami terbakar. kata salah seorang kawanku tadi, aku hampir seperti terlahir kembali !. mungkin ia merasa begitu karena hari ini adalah tepat 25 tahun ia hadir di muka bumi. usai pamit, pak suryo tiba-tiba memberikan beberapa ratus dollar dari dompetnya pada kami. serentak kamipun menolak, emoh menerimanya, mestinya kami yang harus berterimakasih atas nasehat dan pesan-pesannya. bukan malah menerima pemberiannya. tapi ia berujar.

terimalah ini, buatlah apa saja asal bermanfaat. makanpun bermanfaat kan ?. kalian masih muda, aku suka dengan idealisme kalian. dan mudah-mudahan idealismeku yang luntur ini pun juga menyala kembali seperti kalian.

beberapa lembar kertas bergambar george washington itu diselipkan di tas yang kubawa. ampun. orang sebaik ini, orang sehebat ini. pintar. kaya. dermawan. baik hati. alloh, limpahilah ia umur panjang, kabulkan segala cita-citanya yang mulia. kamipun berpamit dan ia melambai tangan dari pintu penginapan. dalam perjalanan aku kepikiran untuk memberinya cenderamata, cenderamata dari seorang yang tertatih untuk mencintai ilmu. apa sajalah sebelum ia pulang. entah. sambil memanggul api yang baru saja menyala lagi kami menuju rumah.

idealisme, idealisme, menyalalah lagi !!!

Tidak ada komentar: