
Mengirim isyarat kematian yang mencekam, memberi kesan menakutkan dari kedua bulat-mataku, dan doyan mencabik-cabik bangkai lalu kumakan adalah tabiat keturunan-ku, aku si elang hitam. Sarang tak lagi kufikirkan, biarlah pendahuluku hidup tenteram disana, di sarang, di rimba antah yang sudah lama kutinggalkan, menuju rimba-rimba asing yang aku mencari aneka satwa lain yang baik dan berpengalaman (red; sesama-ku). Aku ingin mempelajari kehidupan mereka yang tentunya bakal lebih memperkaya gaya hidupku, aku akan mencoba melempar tabiat :
Tak mengirim isyarat kematian, kesan menakutkan dan makan bangkai-bangkaian.
Di benua legam aku sekarang tinggal, bersosial bersama banyak keledai rusuh, kambing dan anjing. Aku sendiri kepikiran, tuhan dulu menciptakan aturan-aturan kan untuk manusia, aku sebagai elang hanya bisa mengambil jatah untuk hidup, jatah makan, jatah minum, jatah tidur, jatah terbang dan lain sebagainya. Dan itu tentunya semua jatah itu adalah hakku sendiri, bukan keledai, kambing dan anjing bukan ? sejak betina-ku raib dibawa angin tenggara, rasanya aku tak lagi sebagai elang jantan. Kerjaku hanya melamun dan nangkring di ranting-ranting kota, menikmati manusia hilir bergilir bergandengan, dan memperhatikan mereka manut kemauan pada benda dibalik celana.
Seperti manusia juga, meski aku elang juga punya rasa bosan, rasa dikasihi dan mengasihi, tapi beberapa keledai, kambing dan anjing mencoba merampas apa yang aku pengini, aku pengin punya betina lagi. Untuk menjaga keturunan yang mestinya sebagai bentuk pengekalan bahwa hidupku juga segera rampung, tapi siapa ya betina yang mau padaku ? aku kan sudah lama tak jantan, tentunya kejantananku dipertanyakan ? tapi aku yakin aku masih mungkin saja kok untuk sekedar "ahgrgh...", memang istimewaku ada pada sayapku, dengannya aku kerap meloncat dari satu atap ke lain atap, dari satu pulau ke lain pulau, meski sesekali aku berpuisi, tapi puisiku datar-datar saja, tidak bersuara.
Hari ini si kambing dungu tiba di kejauhan-belakangku, tidak berani menatap wajahku. Dia yang paling ngotot bilang :
Lang... ada seekor betina dari bangsamu yang kusuka, ia terlalu berkesan untukku, inisialnya 03.
Hah ??? apa iya, itu kan betina yang kuincar seminggu lalu ???, kau pengin merenggutnya dariku ?? berani ?, jawabku. Tak lupa mesti kuceritakan, betina 03 itu memang sempat membuatku tersipu, memuja entah karena cinta atau apa, aku tak tahu. Kubertemu dia waktu aku tertambat menggelotorkan lelah di sebuah ranting cedar di depan mesjid, tempat manusia mendekat Illahnya. Dia begitu anggun, karena setelah berhari-hari aku pura-pura menambat lelah aku baru tahu bahwa ia memang selalu bertasbih, mengingat makan, minum, tidur dan terbang adalah nikmat yang diberikan Tuhannya. Ia elang betina, kagum aku pada paras sifatnya.
Kambing !!! enyah kau jadi karibku, sudah berapa kambing-betina kau kangkangi ? masih pula kau mau elang yang hanya pantas jika kau lindungi dari serangan keledai, anjing dan sesama kambingmu yang keji. Sejurus saja kulancarkan senjata, kupungut debur pasir-pasir dengan sayapku, kucucukkan semua di matanya, lalu ia buta, ngoceh ngetan-ngulon tak karuan, menyumpahku dan menyerapahiku. Hingga akhirnya pada suatu hari aku datang ke ranting cedar di samping mesjid, tempat 03 bertasbih menyebut Illahnya. Kukatakan padanya,
Aku mencintai paras-shalihmu... kau begitu terkesan buatku, lebih dari makna seribu puisi yang dilagu... Ia diam saja tak menjawab iya atau tak-kah menjadi betinaku, dan ia tiba-tiba terjatuh, sayapnya baru kutahu begitu lemah untuk dikepak, dan aku langsung meraihnya sebelum sampai pintu mesjid yang kumuh.
Lebih baik kau tetap jantan, sampai kematian tiba, sesuatu yang teramat dekat menuju Tuhan... dimana kau hinggap adalah sama, tempat Tuhan kesemuanya, kembalilah kau ke sarang pendahulumu, cukup sudah kau melihat banyak hal, tinggalkan keledai-keledai, kambing dan anjing, di tempat legam ini, aku pamit.
Secepatnya aku kembali, membawa betina 03 itu lalu menguburnya baik-baik, kumakamkan, kutaburi dengan air-kelapa di muka kuburnya, dan kudendangkan beberapa bait puisi. Keledai dan anjing tak memahami bahasaku, hanya kambing yang sok tahu itu akhirnya kubunuh. Aku kembali pada sarangku sebagai jantan hingga akhirnya menuju Illah dengan tasbih dan puji.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar