Kamis, Maret 15, 2007

Metafora Sepi


I
Tak Percaya

Untuk apa doa
di ujung gaung pesta
Untuk apa kebenaran
tercangkok di ranting
kesesatan

Tuhan, ajarilah
aku murka pada doa

Tuhan, ajarilah
aku mencerca pesta

Sampai aku yakin
bahwa aku lebih batu
daripada salju yang
mengeras di kalbu

II
Kairo

Sudahkah kami izin
untuk hilang disini ?
sudahkan tuan pamit
untuk berada disini ?
Rumah tuan adalah kertas putih,
mudah dirubah dengan pangkat
dan tanda tangan
sedang rumah kami berupa batu
yang tertulis mata sayu
dan doa para ibu

Lalu bukankah kami tak mulia
dari tuan yang berdampingan,
dan bukankah kami sekedar
batu loncat mimpi para tuan ?

Mungkin,
kami hanya kurang pintar saja
untuk menerjemahkan makna tenggelamnya
batu di sungai yang dalam

III
; Untuk IM,AS & MSK

Menemukan
adalah lebih dari
setinggi jejulang
mimpi naqsabandi

Memahami
adalah lebih dari
pengertian matahari
kepada isi bumi

Bersama
adalah lebih khidmah
dari keteduhan anugerah rabbi
yang diperuntukkan
pada para sufi

; Mohon,
jangan henti cukup disini


* Potret adalah saya sendiri di pantai sepanjang laut merah, pasang tripod & diself-timer selama 5 menitan, menuju kursi dan duduk baca buku.

3 komentar:

fuddyduddy mengatakan...

nice creating dude...
Metafora Sepi, waw...
eh, potone cakep abis tuh...

Anonim mengatakan...

ada kegelisahan, kegalauan, kesepian, kemarahan, atau itukah aku?

hmmm, kadang apa yg terbaca adalah apa yg terpikirkan

mademoiselle*bee mengatakan...

hmm.. aku naksir bgt ama photonya. ^^ ngaku. udah sadar bgt sih itu di mana. hahahhaa.. keliatan. hahahha.

kalau puisinya suka yang pertama aja. dalem rasanya. kalau yg berikutnya.. ya nggak dalem-dalem amat. "mengapung(!?)" ;p