
I
Tak Percaya
Untuk apa doa
di ujung gaung pesta
Untuk apa kebenaran
tercangkok di ranting
kesesatan
Tuhan, ajarilah
aku murka pada doa
Tuhan, ajarilah
aku mencerca pesta
Sampai aku yakin
bahwa aku lebih batu
daripada salju yang
mengeras di kalbu
II
Kairo
Sudahkah kami izin
untuk hilang disini ?
sudahkan tuan pamit
untuk berada disini ?
Rumah tuan adalah kertas putih,
mudah dirubah dengan pangkat
dan tanda tangan
sedang rumah kami berupa batu
yang tertulis mata sayu
dan doa para ibu
Lalu bukankah kami tak mulia
dari tuan yang berdampingan,
dan bukankah kami sekedar
batu loncat mimpi para tuan ?
Mungkin,
kami hanya kurang pintar saja
untuk menerjemahkan makna tenggelamnya
batu di sungai yang dalam
III
; Untuk IM,AS & MSK
Menemukan
adalah lebih dari
setinggi jejulang
mimpi naqsabandi
Memahami
adalah lebih dari
pengertian matahari
kepada isi bumi
Bersama
adalah lebih khidmah
dari keteduhan anugerah rabbi
yang diperuntukkan
pada para sufi
; Mohon,
jangan henti cukup disini
* Potret adalah saya sendiri di pantai sepanjang laut merah, pasang tripod & diself-timer selama 5 menitan, menuju kursi dan duduk baca buku.
3 komentar:
nice creating dude...
Metafora Sepi, waw...
eh, potone cakep abis tuh...
ada kegelisahan, kegalauan, kesepian, kemarahan, atau itukah aku?
hmmm, kadang apa yg terbaca adalah apa yg terpikirkan
hmm.. aku naksir bgt ama photonya. ^^ ngaku. udah sadar bgt sih itu di mana. hahahhaa.. keliatan. hahahha.
kalau puisinya suka yang pertama aja. dalem rasanya. kalau yg berikutnya.. ya nggak dalem-dalem amat. "mengapung(!?)" ;p
Posting Komentar