
Tiba-tiba begitu mudah rasanya jatuh, telungkup dan tak ingin bangun seperti semula. Hanya perasaan kalah, rasa yang paling tak sedap untuk dirasakan. Untuk meyakini, bahwa roda terus berputar bergantian, bawah, atas, amatlah sukar. Matahari pertama kali terlihat tidak pada pagi, tapi pada petala siang ketika ia seolah-olah menghunjam meluncur menuju ubun-ubun. Ada yang hilang, dan tak kembali.
#1.
Tentu kamu masih ingat, ketika di kebun salak aku menjadi hantu-hantu kecil, menakutimu dan berlarian karena aku juga mengalami ketakutan yang sama, hari ini babak baru digelar, kamu mendahuluiku, makin mengekalkan kenangan kita kecil, nduk.
#2.
Atau saat kamu mengajek "R" ku, padahal kamu juga tak bisa melafalkannya, kita bertengkar dan cepat damai, lalu bermain di bawah kembang kertas dan kupu-kupu. cepat sekali masa itu berlalu , oh waktu.
#3.
Sampai akhirnya di atas kasur tanpa sprei, kucari potongan wajah-wajah mungil itu, bisa, tapi sekejap itu pula ia terberai, begitu seterusnya sampai akhirnya kusumpah,
Masalewat kumurkai, masa yang tak mengenal sedu nurani, masa yang terus menguatkan bahwa keadaan kini bakal juga, mati tak kembali.
1 komentar:
smoga ketika ajal kita cukup bijak untuk melihat semua jejak sejarah yg kita toreh, lantaran tidak ada kebejatan-kebajikan, ketololan-kepintaran, kegetiran-kemanisan, dan semua paradoks hidup tanpa makna.
tawa dan tangis ketika video kehidupan diputar sama nilainya. mari menyelam ke masa lalu, menelisik hari ini dan terbang ke masa depan dengan kerendahan dan kedogolan diri, apa adanya.
Posting Komentar