Kamis, Februari 01, 2007

Bah


; penggalan catatan harian

Percik hujan makin rakus, seperti jarum terus berlangsung temurun. Aku menatapnya dari balik kaca kusam-jendela. Hujan berjatuhan, di negeri gurun ? negeri Mesir yang tidak pernah merencanakan APBN meski hanya untuk membikin selokan-mini di setiap perkampungan. Karena musim tidak pernah mengizinkan hujan melenggang. Karenanya dimaklumi di tepi jalanan air menggenang, sebagaimana mereka juga memaklumi sampah-sampah berserakan, jadilah air yang menggenang itu bercampur sampah dan menghitam, nyamuk dan anjing-anjing memporak-porandakan.

Negeri gurun memaafkan kejadian seperti itu terjadi. Karena musim tidak pernah merencanakan Hujan. Sebagaimana maafku untuk menyebut negeri ini, negeri sampah.

Membaca koran-koran, ibukota Jakarta terendam air. Bahkan kata seorang yang mengalaminya air datang seperti bah, membadai. Baru kali itu merasakan datangnya air-bah seumur hidup, sungai-sungai kecil dan Ciliwung muntah, sama sekali tidak ada perbedaan, sungai dan jalanan. Berapa kali sebanding dengan Tsunami di Aceh ? dimana kematian rapat-rapat mengepung. Ah, puisi selalu menarik jika berbincang tentang bencana dan kematian.

Mesti dengan apa aku memaklumi wakil-rakyat-ku ? Bukankah anggaran belanja negara juga mengalir seperti banjir, sampai-sampai kurang dan dihutangkan dari sekian negeri penjuru ? Bukankah kami selaku masyarakat juga selalu taat jika ditertibkan aparat jika melanggar perjanjian, peraturan?

Teringat seorang guru yang tulus mengajar waktu SD, tentang teori Sosial dan Alam. Sampai njeber bicaranya menerangkan banjir dan bencana-bencana alam lain tiba jika, hutan-hutan gundul, ditebang tanpa tanggungjawab, dan kota membuang limbah pabrik tidak pada tempatnya. Mendapat teori seperti itu dulu aku masih sangsi, apa mungkin negeriku bakal dilanda bencana se-mengerikan itu ? bukannya negeri kita terus selalu hijau dan dihijaukan, di desa pun dikota ?

Tidak, bencana dari teori itu benar-benar datang, tidak jauh dari pandang kita. Dan aku merasa rindu untuk duduk lagi di bangku SD, diajari pak guru atau ibu guru yang lugu di desa, tentang teori-alam, mengatasi banjir, mengatasi bencana, menjaga nyawa untuk bertahan hidup teragak lama.

Barangkali seperti itu juga kah, alam akhirat nanti ? dimana masa lalu tak bisa terulang, walau seumur-umur hidup cukup untuk mengucap dan melafadzkan kunci suwarga, atau memperbaiki dosa sampai setimbang pahala ?

Kututup jendela dan debu jatuh, sementara hujan tetap runtuh, aku melamun. Dan dingin yang sarat tiba-tiba datang setelah semingguan lenyap, Mesir menggigil lagi.

Tidak ada komentar: