
; penggalan catatan harian
Dua hari ini aku dikepung kemelut, bertanya sebab, Kenapa ? entah, aku merasa ngeri untuk menjawabnya. Karena kepastian jawaban itu adalah, masa depan ! jubahnya terlalu lebar dan menutup, gelap dan terlampau sukar untuk diprediksikan.
Seorang teman, dalam ritual mandi malam-nya beberapa hari lalu bertanya-tanya sendiri, berfikir dan diceritakannya fikiran itu padaku. Anda dunia itu bisa di-trial error-kan, pasti kita akan lebih mudah untuk bisa memilih banyak pilihan hidup. Tapi adanya kita saat ini tidak dalam ihwal tersebut,
Kamu lebih muda, lebih bisa bekerja, dan dewasa untuk mempertahankan hidup dibanding aku, yang serba bergantung dan tergantung. Kataku pesimis,
Andai saja dunia ini tanpa perbandingan, kataku dan teman itu menyergah balik, Karena itu adalah mustahil, perbandingan ada sejak Qabil dan Habil, dan ah… dunia ini memang serba membanding-bandingkan. Karena dunia itu simpel dan singkat, antara iya atau tidak, begitu saja, kalaupun ada kata mungkin, mungkin iya atau mungkin tidak, itu malah merepotkan diri sendiri.
Tapi kita telah hidup adalah bubur, yang serba terlanjur, kita terlampau berani dalam perjanjian dengan Tuhan di alam semula kita diproduksi, iya kami bersaksi kaulah Tuhan kami. Seumpama ada kesadaran bahwa adanya ketidak-sanggupan untuk hidup, bisa jadi kita bernasib lebih baik, tidak berdosa-juga tidak berpahala, seperti kata Gie.
Persaksian dan perjanjian selalu butuh perwujudan ? iya, tapi perilaku seringkali mengingkari perjanjian, hidup digunakan hanya untuk membuktikan bahwa pengkhianatan kepada perjanjian sedang terjadi dan menjadi-jadi, berleha-leha, bergerak tanpa guna dan lain sebagainya.
Wes Kadung, Wes Keblanjur istilahnya. Dan setelah hidup yang serba pilihan itu - aku juga yang sebagai manusia - selalu tidak pernah jauh dari rencana-rencana orangtua. Mesti jadikah apa kita suatu hari kelak, bukankah selalu ada campur tangan keinginan orangtuanya ? dan perbenturan mimpi sesama manusia itu akan terus terjadi ketika menginjak merampungkan usia..
Benar, hidup saat ini bukan hidup yang trial-error. Sudah terlanjur, apalagi kalau bukan untuk mencatat yang bajik, sebelum sejarah melumat habis.
*Picture i captured yesterday at Ibn Toulun Mosque ; Anno 879 M
5 komentar:
Mbak yu foto ibn thouloon rumayan cakep tuh,,, KErumitan hidup jangan terlalu dijadikan beban hehehe,,, jalani, syukuri, cari celah2 untuk diterobos,,, sukses selalu amen.
Mister,
tentang trial error kembali ku merenung di kamar mandi. [Bisa jadi] kehidupan dunia adalah trial error untuk kehidupan akhirat.
Dan entah, aku merasa "Sayangnya itu... Ya, sayangnya..."
Oh ya... kok ternyata aku kurang syukur ya.
*berawal dari sadar, berharap datang Terang*
babakan hidup gak terhitung. yg trial error ada, yg error terus atau yg trial terus ada, yg bijak dan bajik ada juga, macem2.
brapa lama masing2 babaknya, sering gak jelas, dan kadang gak penting. yg penting ya jangan merasa jadi korban dan lalu pasrah. Salam.
Sudut yg kamu ambil di Ibn Thoulun cakep banget An, sama siapa ke sana?
Posting Komentar