Jumat, Februari 16, 2007

Photographic Trip


Sebuah Catatan Perjalanan

Saya gembira. Pertama ; untuk kedua kalinya bisa mengunjungi piramida setelah hampir tiga tahun lalu. Bedanya kalau dulu saya datang di bangunan kerucut raksasa itu hanya sekedar untuk berpose, diabadikan dan dikirimkan ke beberapa sejawat, dengan sedikit diskripsi yang menyertainya ;

Oh ini lho saya yang berada di samping piramida ! saya pernah kesitu lho! Liatin deh fotonya.

Dan rasanya tak hanya saya yang berkunjung ke piramida saja, mungkin disana yang di Perancis pasti juga tak bakal pernah menyianyiakan waktu untuk mengabadikan dirinya di samping Eiffel,

Hei ini gue, waktu kuliah sering kongkow di deket Eiffel ! plototin tuh foto gue.

ataupun mereka yang di Amerika untuk berdiri narsis di dekat patung Liberty, ataupun juga yang tinggal di Jakarta untuk mengabadikan dirinya di bawah Monas,

Iki lho fotone reekk, aku biyen pernah cangkrukan dek cedak monas !

Semua untuk di diskripsikan dan bahan penguat bahwa kita pernah ikut mengisi sejarah pada tempat-tempat yang diinginkan.

Hal lain yang bikin berbeda dengan dulu, saya lebih suka mengabadikan daripada diabadikan, lebih nyaman memotret daripada dipotret. Dari pengalaman - pengalaman yang di dapat dari beberapa situs fotografi, sudah saatnya untuk mempraktekan teori-teori. Bagaimana penempatan sudut, cahaya dan pengambilan foto yang benar dan menarik. Meski hari itu hujan turun, tapi langit terasa lain dari biasanya, langit gurun yang kerap biru bersih tak berawan, kali itu gelap dan sedikit menghitam. Yang rada bikin pusing beberapa percik hujan mengenai lensa, tak bawa lap pula, akhirnya di lap pakai tissue.

Kedua, untuk pertama kalinya bisa masuk benteng bersejarah, dibangun pada masa kekuasaan Sholahudin Al-Ayyubi, panglima terkenal dalam Islam setelah rasul Muhammad. Meski sejak dulu telah beberapa kali melintasi benteng yang megah itu, tapi tak ada keinginan sedikitpun untuk masuk. Saya lebih terkesan dengan masjid Ibn Toulun, masjid tertua kedua di tanah Mesir setelah masjid Amru Bin Ash. Foto b&w nya pernah saya upload di blog juga .

Ornamen-ornamen benteng Shalahuddin kental dengan islam, mulai dari ukiran benteng dan kaligrafi-kaligrafi yang menghiasi dinding dan atap masjid. Usai menyempatkan shalat disitu, saya teringat, Shalahuddin kan tokoh yang diidolakan bapak saya yang sekarang di desa nun jauh disana, waktu masih kecil bapak sering mengisahkan tentang kehebatan dan kepiawaian si idola berpedang. Ah, jadi terkenang masa lalu lagi.

Seperti biasa, setelah sampai rumah dan setelah foto-foto telah dipindah ke komputer, wajib hukumnya foto masuk rumah Photoshop CS 2, entah tonal warnanya dibikin lebih sedap, atau hanya mengalami Cropping, setelah itu uploading di situs-situs fotografer, untuk diapresiasi dan dikoreksi.

* Diatas adalah masjid Muhammad Ali, terletak di kawasan benteng Shalahuddin Al-Ayyubi, saya ambil kurang dari seminggu lalu.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

hmmm, kapan ya bisa sampai ke Mesir... smoga gak lama lagi. salam.

Anonim mengatakan...

eh gue juga ke mesjid yg di foto itu pas ke kairo ;)