Selasa, November 02, 2010

When November Comes

I. Bagaimana Ikhlas

tepatnya lima tahun lalu.

aku menyimpan banyak hal yang paling kusayangi pada waktu itu di sebuah komputer. tempat penyimpanannya namanya hardisk. pada suatu hari yang aku tidak inginkan, dan aku tidak sedang berada di rumah, seorang teman datang dengan maksud ingin mengcopy film dan beberapa dokumentasi foto.

malam harinya, kunyalakan komputer tidak bisa juga. hardisk jebol, semua isinya lenyap. aku seperti gila, bagaimana tidak skrip-skrip bahan untuk menulis novel harus ludes, tulisan-tulisan yang akan kukumpulkan menjadi buku puisi juga! seperti gila, tapi kupikir apa iya kuserahkan sisa umurku untuk gila? tidak.

sejak itu juga pola-pikirku tentang mengikhlaskan sesuatu menjadi lebih total. aku benar-benar merasa tidak berhak penuh memiliki sesuatu, sebab toh akan hilang, rusak, atau gampangnya kata orang-orang bijak : akan diminta kembali oleh yang punya.

sedang menurut istilahku : setiap kepemilikan adalah seperti penerimaan kita terhadap sebuah hari. pagi-siang-sore-malam. kita tidak dapat berlama-lama memiliki momentum baik, kecuali memomentum tersebut kita dokumentasikan supaya dapat dipelajari pada hari yang lain.

ya terima sajalah siang panas, pagi muram, sore badai… karena tidak seterusnya akan begitu.

II. Hidup dan Sehat

betul aku makin pilah-pilih apa yang harus masuk dalam perut. betul aku berniat secepat mungkin mengakhiri masa-masa merokok. betul aku lebih mempertimbangkan hal-hal yang menjadikanku akan lebih sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang baik.

semua itu setelah mengalami apa yang dinamakan tidak sehat.

aku berkeinginan lebih sehat setiap harinya, kalau memang menyentuh umur 100 tahun adalah mustahil bagi orang jaman sekarang, mohonku setiap saat pada tuhan untuk dapat melintasi usia ke-delapan puluh-ku nanti.

menjadi saksi berubah-ubahnya hidup dari waktu ke waktu dengan sehat.

Tidak ada komentar: