I
akhir-akhir ini aku kehilangan diri di tengah kesibukan orang-orang di sekitarku. mereka sibuk mengemong anak-anaknya, bekerja hilir-mudik kantor, melepaskan kejenuhan di akhir pekan, dan mudik ke tempat-tempat mereka pernah mengenangnya, saat liburan panjang.
aku tak menampik kedengkianku ini. karena ini memang benar-benar memencet seisi kepalaku. kedengkian yang harus membangkitkan keyakinanku untuk lekas berjalan cepat, -setelah sekian lama baru bisa berdiri. kedengkian yang akan menimbulkan dampak positif.
sudah tak ada waktu luang lagi untuk berleha-leha. dua tahun lagi usiaku persis seperti saat bapak berani menyunting ibu. dengan modal 10 ribu mereka berdua lari ke kantor KUA, tak ada resepsi, tak ada pesta. beberapa tahun kemudian nyeprotlah jabang bayi itu, aku! aku tak bisa terus seperti ini saudara-saudara, aku menemukan kebosanan dan kemuakkan yang menjadi-jadi, justru itu berada pada jiwaku sendiri, sial!
II
hawa politik merajam-rajam waktu dan tempat. di setiap tikungan, jalan, persimpangan, di seluruh penjuru indonesia mungkin juga akan ditemui kondisi yang serupa. mataku tak sehat, mataku mual. mataku memiliki hak untuk melihat hal yang normal dan alami. mataku juga mata orang seluruh indonesia kupikir juga seperti itu. dimana-mana orang berdasi dan berpeci tampak narsis di baleho-baleho raksasa sampai baleho kelas teri. kalau dulu mereka minta dicoblos - coblos matamu!, pikirku. sekarang mereka minta dicontreng, diconteng. agar mereka bisa duduk di kursi panas, dan sibuk melegasikan segudang-gudang proyek, yang katanya untuk membangun, memerbaiki, dan memajukan negara ini!
banyak orang berfikir memajukan negara adalah memajukan bentuk fisik semata-mata, bangunan, perkantoran, rumah mewah, jalan mewah dan sebagainya. tapi yang kupikirkan sejak aku umur lima tahun -- waktu itu bapak berlangganan majalan media dakwah, dan aku sering membacanya. adalah bagaimana membangun karakteristik bangsa ini!
pram, dalam sebuah wawancara yang pernah kusimak, bangsa kita amat sangat konsumtif bukan sejak pembunuhan kemajuan karakter pada jaman orba saja, tapi jauh sebelum itu, sejak jaman sriwijaya, majapahit, kita sudah benar-benar konsumtif. kita tak mampu produktif! bagaimana tidak, orang-orang tertinggal kepingin maju, mereka berduyun-duyun ke kota, mereka pikir kota memberikan segalanya, mereka pikir kota itu tempat berkumpulnya orang-orang pintar dan kaya. setelah mereka layak hidup di kota, mereka beranak pinak, anak-anak mereka disajikan dengan kehidupan yang serba dengan membeli, bukan mencukupi kehidupan dengan membuat! ya, kehidupan yang makin maju memang makin membikin karakteristik manusia-manusia yang bisa membeli. mereka duduk di bangku sekolah dididik untuk bisa punya duit, untuk bisa membeli, apapun itu, karena segala yang ada di sekitar kita adalah dagangan semua! tak terkecuali jiwa, pikiran, apalagi testis dan vagina!
manusia yang bisa membeli disebutnya orang-orang pintar dan kaya! sehingga tiba pada waktunya, orang-orang pintar dan sadar bakal terasingkan, mereka tak punya lagi harga diri, mereka tak punya lagi taji! dan orang-orang yang bisa membeli-lah yang akan dituhan dan dipuja-pujakan! itu sudah menjadi fenomena nyata dalam kehidupan saat ini! dan akhirnya bangsa ini pun hanya akan dipmimpin dan dimiliki oleh para pembeli!
kemudian aku berfikir, ke depan dan terus ke depan apa yang akan terjadi? -- sedang aku yakin, betapa hebatpun pemikir, intelektual dan cendekiawan akan semakin tersisih. ke depan yang akan terjadi tak ada yang bisa meramal.
kepalaku penuh, aku tak mungkin bisa hidup dengan terus berdiam diri, aku ingin hidup dengan kehidupan yang memiliki guna bagi sesamaku, karena itulah sebaik baik manusia.
aku pun menyulut rokok dan meneguk es teh diatas meja depanku. michael heart menyahut dalam we will not go down.
III
mainset-mu harus dirubah, segala hal untuk diketahui adalah dengan dicoba. kau akan bisa jika sebelumnya merasa bisa, dan dalam mengerjakannya kamu akan membuktikan bahwa sesuatu itu memang bisa kau atasi. -- Ujar Pak Amir padaku di Tanah Kusir, akhir bulan lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar