Sebulan lebih aku di rumah. meninggalkan identitas sebagai pelajar. menggantinya dengan identitas "pemerhati" kehidupan di lingkupan dusun. Di dusunku yang terpencil, sekarang telah berdiri dua mini-market yang megah di depan pasar-tumpah, pasar-tradisionil yang buka pada pagi hari. Begitu juga sebuah spbu, dilengkapi dengan bangunan mushalla, ganti oli, dan cuci mobil.
Pagi hari atau sore hari. setiap aku berangkat dan pergi ke kebun tebu milik bapak, selalu melewati spbu, minimarket dan pasar tumpah tersebut. Banyak orang di sekitarku mengandaikan diri menjadi pemilik modal nan besar di dusunku tersebut, sehingga bebas dan semau-hati membangun usaha-usaha yang mendatangkan banyak laba. Tanpa mengindahkan apa yang dilakukan orang lain dalam mempertahankan hidupnya, istrinya, anak-anaknya.
Aku memperhatikan toko-toko, warung-warung, yang dibangun dengan modal kecil dan seadanya. Aku menangkap kelesuan, ketidak-gairahan dan kepasrahan. Wajah-wajah pemiliknya pun benar-benar tak berdaya. Dan aku seolah-olah terseret untuk berada di barisan mereka! aku tidak membayangkan menjadi seperti orang sekitarku bayangkan. Aku membayangkan menjadi pemilik warung-warung kecil, toko-toko kecil tersebut.
Pengetahuan masyarakat dusun tentunya berbeda dengan orang kota. Apalagi orang-orang terpelajar__yang jika dengan pengetahuannya tetap menjalankan praktek sejajar pengetahuan masyarakat dusun, oh keterlaluannya. bukankah hal tersebut juga masih banyak dijumpai? Misal, celakanya seorang lelaki yang memandang perempuan hanya sebatas bentuk-pantat dan payudara, bukan tipikal akal terpelajar! Secara logika kita masih bisa memaafkan sikap masyarakat dusun karena keterbasan pengetahuan dan wawasannya, tapi jika masyarakat terpelajar yang bersikap demikian ? hapuslah pengampunan.
Kembali ke dusun.
Praktek sosial dan ekonomi di dusunku yang benar-benar tak sehat ini membuatku bertanya. Benarkah aku gelisah akan keberadaan orang-orang yang tak berdaya dalam persaingan ekonomi tersebut ? Atau hanya sekedar bentuk keirianku saja karena aku tak mampu mendirikan usaha-raksasa bermodal besar seperti itu ? Mudah-mudahan pertanyaan ini tidak muncul dari pertanyaan yang kedua.
Mahatma Gandhi pun selalu menegaskan sikap bahwa kemajuan dan pertumbuhan ekonomi tidak bisa dipahami sebagai tujuan yang harus dikejar demi ekonomi itu sendiri. Karena tujuan yang harus dikedepankan adalah manusia dengan kesejahteraannya. Dan masih benar aku ingat prinsip hidupnya__ membantu si miskin adalah dambaan hatiku yang terbesar, dan hal ini selalu membawaku ke tengah orang-orang melarat sehingga aku bisa mengenali diriku diantara mereka.
Di negeri gurun__dulu__aku mengasah kesadaran di lingkungan orang-orang yang kalah. Sampai-sampai aku tak peduli dengan mata-kuliah di kampus tua itu. Aku menahbiskan masa-masa itu dengan "masa kesadaran". sadar untuk mengidentifikasi diri-sendiri, sadar untuk membela apa yang harus dibela, dan aneka kesadaran lainnya. Bergumbul dengan orang-orang yang kalah sangat menyenangkan, membikin rindu, minum teh, sisha, dan rokok di pojok kedai kopi__sembari memperbincangkan cinta, sastra, agama, kekalahan, dan menyiapkan kemenangan-kemenangan di masa mendatang! bukankah kalah dan menang adalah bahasa nasib ?
Yang aku inginkan di dusunku yang polos tersebut adalah kesejahteraan bersama, sebab kemajuan ekonomi sejati adalah kemajuan kehidupan sosial pelaku-pelaku ekonomi itu juga. Tanpa ada yang dirugikan oleh sistem bersama. Kemajuan yang diamini oleh dunia-kapitalis adalah kemajuan tanpa batas, yang berkemauan dan berkorban besar, dialah yang paling maju. dan kapitalis-kapitalis cilik itu telah menggurita di dusun yang polos. keji!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar