sengaja ditulis hampir setelah sebulan perjalanan ini berlangsung. sekaligus untuk mencoba mengetes ingatan. dulu. dalam bayangan saya. bagaimanakah negeri mesir. tempat berdiam yusuf dan musa. nil. istana batu. dan gurun sahara. bisakah saya kesana. syukur untuk tuhan. tercapai kesempatan itu. hingga kini saya disini.
kawan-kawan bilang. jika kamu pergi ke alexandria. sinai. matruh. kamu akan melewati samudera pasir. jauh dekat pemandangan adalah gersang. tak ada air. tak ada kehidupan. dan benar yang mereka ceritakan tentang semua itu. setelah saya bepergian ke tempat yang mereka maksudkan. tapi dari semua itu ada hal yang belum tercapai. bermain pasir. berteriak di tengah gurun. seperti alkemis. dalam sebuah cerita.

hal yang belum tercapai itu tuhan wujudkan lagi. dan tuhan selalu andil untuk semua persoalan manusia. bersama beberapa kawan saya berangkat menuju sharmu sheikh. kota wisata terbesar di mesir. bisa dibilang disitulah bali-nya mesir. banyak turis berpakaian seronok. banyak casino berdiri menonjok. iya. seperti bali benar. meski saya hanya bisa membayangkan bali dalam potret-potretnya yang indah. kuil besakih. kuta dan kintamani dll.
jujur. saya belum pernah menginjakkan kaki disana. di bali. pulau para dewata.
perjalanan selama tujuh jam dari kairo kota itu terasa lama. pemandangan yang menjemukan. pemandangan pasir. coklat seperti es-krim. walau begitu tidak terasa panas sekalipun matahari terik. karena musim dingin masih menyelimuti. melewati terusan suez. terusan yang dibelah guna jalan pintas perdagangan laut asia-eropa-afrika.
di beberapa tempat kami sempat berhenti. biasa dengan kewajiban & tuntutan kami. berpotret. mengabadikan keretakan yang dinamakan waktu. heleh. intinya sebenarnya adalah narsis. tapi buat saya akhir-akhir ini memotret bukan sekedar untuk mengabadikan diri. tapi sekaligus bagaimana belajar praktikum dari teori-teori yang saya dapatkan di FN |fotografer.net|
pun juga sebagai bukti kelak pada cucu dan anak bahwa saya juga pernah hidup di gurun. saya memutuskan memilih aliran lanskap. lagipula jarang fotografer tanah air yang mengeksplorasi gurun pasir yang terkesan tak menarik. tak eksotik. dan tak ada keindahan apapun disana.

saat malam tiba kami harus sampai kota sharm sheikh tersebut. sehingga acara berhenti-berhenti harus diporsikan secara terukur. mengingat waktu terlalu sempit. saya teringat ketika bersepeda motor ria. dari semarang ke rumah teman di kawasan dieng. wonosobo. melewati dataran tinggi dieng. kebun teh yang hijau. perjalanan yang harusnya menghabiskan waktu sekitar 5 jam. akhirnya ditempuh selama hampir 9 jam. ya karena hobi berhenti dan berfoto di tempat yang menarik. meski jauh hari semua foto-foto itu lenyap karena brontok-terkutuk. sialan.
gurun yang kami lewati hanyalah tanah lapang. kosong. hanya beberapa bagian saja yang didapati gunung pasir halus. dengan larik-lariknya yang dilukis oleh angin. selainnya berupa bebatuan. saja. tepat matahari terbenam kami masih sempat di tengah-tengah padang tandus tersebut. di seberang jalan tampak orang arab menunaikan sholat. berdiri diatas pasir. hanya pakaian yang mereka gelar untuk tempat bersujud. sunset di gurun datang. lalu pergi. begitu saja. kami tersenyum. dan melanjutkan perjalanan lagi.

sampai sudah di tujuan ketika lampu-lampu jalanan di kota sharm sheikh menyala. bangunan-bangunan besar bertitel casino di depannya begitu tampak. sekian meter persekian meter. lagi. kata teman saya. seperti bali. dua tahun lalu saya juga pernah kesitu, tapi waktunya siang hari. ya tepatnya seminggu setelah terjadi ledakan bom yang menewaskan beberapa warga sipil.
kami tak terpikir bagaimana akan bermalam. di hotel kah. di emperan masjid kah. atau dimana. yang kami tahu segala tempat adalah seperti di tanah air. bebas tidur dimana saja. sehingga yang kami persiapkan dari rumah adalah sleeping-bag. persediaan makanan dan minuman. inisiatif kalau sewa hotel mahal, kami bisa tidur di emperan masjid. atau di dalam mobil. apakah bisa mobil buat tidur ? wong untuk selonjor saja repot. kami ber-lima berangkat. dua di depan. tiga di belakang. saya yang tergolong paling mini ukutan tubuhnya harus sedia dijepit. ah teraniaya. aha.
selepas sholat dan makan di masjid kami meluangkan jalan-jalan malam di pinggiran pantai. disitu banyak resto-resto. ala arab, ala eropa. ala india. ala china. ada semua. bahkan saya terkejut ketika sebuah bar tertulis di bagian atap depannya ... we back in ussr... gambar palu arit besar berwarna merah terpampang. juga tokoh-tokohnya, marx, lenin dan stalin. wah mana ada ini di indonesia. pikir saya. ya bisa jadi itu ada karena di tanah arab ajaran komunis tak memiliki sejarah gemilang. tak seperti di indonesia. di masa lampau.

setelah jalan-jalan dan duduk-duduk di emperan hard-rock cafe *hanya duduk-duduk saja. sama sekali tak masuk*. kami baru terfikir mesti dimana akan menghabiskan malam. istirahat dan menyusun kekuatan untuk pulang keesokan hari. kesepakatan pertama kami akan tidur di pasar lama. yang setiap malam memang sangat ramai. sampai sana, kok sepertinya terlalu ramai. kamipun kembali lagi ke masjid tempat kami sholat dan makan malam. tiga orang tidur di dalam mobil, salah satunya saya yang sialnya malam itu sedang kambuh asma. dan dua orang tidur di emperan, menggelar sleeping bag dan selimut.
indonesia bukan mesir. mesirpun bukan indonesia ternyata !!! dalam keterlelapan sekitar satu jam-an. datang orang mesir yang ternyata adalah intel. untuk pertama kali. kalian sedang apa disini. kamipun menjawab kami ingin menginap sampai pagi disini. karena sewa hotel disini teramat mahal. akhirnya mereka pun pergi. kami istirahat lagi.

tak sampai satu jam. mereka datang lagi. jumlahnya bertambah. lalu mereka pun pergi setelah kami jawab seperti kedatangan mereka pertama kali. kamipun memejamkan mata. eh. ternyata untuk ketiga kalinya mereka datang. bawa mobil patroli. jumlahnya tentu lebih banyak. yang mereka tanyakan sama seperti sebelumnya. bosan kami menjawab.
akhirnya ketua intel dari mereka tiba. jadi sekitar belasan polisi itu berdiri sangar di depan kami. paspor & tanda pengenal dari setiap kami, mereka minta. aih. seperti maling dicucuk kami malam itu. tapi kami juga tak bisa menyalahkan apa yang mereka lakukan. daerah sharm sheikh memang terletak berdekatan dengan negara israel. tempat wisata pula. kalau dunia pariwisata di mesir hancur. berarti hancur pulalah sumber devisa negara. negara mesir adalah negara yang diuntungkan oleh sejarah pendahulunya. dari sektor wisata yang berupa batu, gunung dan kuburan saja mereka bisa hidup. membandingkan alam indonesia. kenapa tak bisa melebihi mesir ?
bukankah indonesia lebih kaya alam, keindahan dan dunia pariwisatanya? atau memang karena indonesia tak memiliki sejarah panjang untuk sebuah peradaban manusia. entah.
segera balik lagi ke ibukota kairo sekarang daripada nanti terjadi apa-apa. kata ketua intel itu. di sebuah buku yang seperti laporan mereka mencatat nama dan nomor paspor kami. jam tiga pagi. ketika azan subuh masih jauh kami meninggalkan bali-nya mesir itu. malam yang tragis.

keluar dari sharm sheikh hari masih gelap. sekitar jam 8 pagi kami sudah di separuh perjalanan. melepas lelah kamipun sepakat berhenti.
jalan dari terusan suez hingga sharm sheikh adalah berupa jalanan panjang yang menyusuri laut merah. sebagai pecinta pantai. saya tak meluangkan kesempatan. bermain di pantai yang airnya bikin ngilu tulang itu. saya mencebur, di pagi pantai yang sepi itu. aneka ide pemotretan saya coba, hingga menceburkan kursi yang memang berada disitu ke bibir pantai, dll. pelepas rindu ketika dulu kerap menuju pantai prigi di trenggalek, kukup & sepanjang di jogja. tempat-tempat teraman pelarian saya & ... dari jenuhnya kehidupan dan keramaian dunia.

di petala hari. ketika matahari tepat menyengat di ujung tinggi. kami sampai rumah. di kairo. rasa lelah lenyap setelah melihat-lihat potret yang dijepret dalam perjalanan. apalagi setelah beberapa minggu kemudian photo-photo yang dijepret jadi pilihan editor di FN. ah. begitu mudahnya tuhan meliuk-liukkan nasib. secepat itu ketragisan berubah menjadi senyuman.
akhirnya...
dengan berjalan saya baru tahu, hidup tak cukup disini, dengan berjalan saya baru tahu, manusia akan terlihat perangainya, dengan berjalan saya baru tahu, saya segera rampung, ditelan angka-angka usia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar