Serat Mimpi - 19
Dingin, begitulah jantung kota tua Kairo sepagi ini. Di warnet yang jangkauan harganya tinggi, banyak peranakan china yang disini kebanyakan bekerja, mereka disampingku persis duduknya, menelpon keluarga di china sono sepertinya. begitu kuat ikatan emosi famili mereka.
Kurang bisa kubayangkan dulu ketika Sutan Syahrir di tanah pembuangan Banda Neira. Ia saban bulan sibuk menuliskan surat demi surat dan dikirimkan ke istri, dan beberapa sanak keluarga. Ia baik-baik disana, bersama tiga anak angkatnya yang oleh Goenawan Mohamad distilahkah Syahrir lebih memilih tubuh yang bebas dan bermain daripada ide yang terususun rapi dan tenang. Tercermin ketika ia lebih memilih membawa ketiga anak angkatnya daripada 16 box buku karena tak muatnya pesawat capung Catalina. Meninggalkan buku itu kemudian hari disesalinya sendiri. Andaikan pesawat menampung buku-buku, sekalian tiga anak angkatnya?
Aku tidak bakal pergi dalam waktu dekat ini dari sini, tapi mendengar sayup-sayup sajak yang dibacakan Rendra kemarin malam membuatku makin kolap terhadap masa depan. Kalah sebelum bertempur dan melawan, sepertinya.
Suka duka kita bukanlah istimewa / karena setiap orang mengalaminya / hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh / hidup adalah untuk mengolah hidup / bekerja membalik tanah / memasuki rahasia langit dan samudra / serta mencipta dan mengukir dunia.
Entahlah antara banyaknya bayang-bayang, aku kerap sukar menentukan pilihan. Mungkinkah aku akan diterbangkan Catalina-Catalina lain ke negeri jiran kita ? lagi-lagi waktu yang mengedipkan jawabannya.
Hari yang ranum, kegelisahan dan kegelisahan datang lagi. Kegelisahan hebat apa yang kamu pernah alami ? Bukankah pagi adalah waktu paling nikmat untuk membakar semangat ? aku tidak demikian, setiap pagi, setiap pagi, setiap pagi gelisah datang, bingung ikut campur dalam menerjemah mimpi semalam penuh. Seandainya aku dan kamu semua menjadi Mahfouz, yang tiap mimpinya kemudian hari tercatat oleh sejarah dan dibaca banyak orang dalam seri, the dreams. tapi lagi-lagi aku tidak demikian, pun dirimu.
Seperti kataku dulu, aku belum siapa-siapa untuk bersuara. Bisapun bersuara tapi bakal bisu, itupun juga tidak akan menjadi renungan dan hikmah manusia dikemudian hari seperti Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Memanglah seperti itu, kita hidup kerap membandingkan dengan pencapaian beberapa orang tertentu yang sanggup mencuri perhatian kita. Tapi perlu ditegaskan bahwa itu memang perlu.
Pada saatnya kita mesti mengerucutkan permasalahan, untuk dipilih melalui lorong-lorong realita dan feeling akan pencapaiannya. Memilih kenyataan yang bergerak dan bermain atau ide yang tersusun rapi dan tenang. Sedingin ini tak se-membara otak di tempurung kepala, semua memiliki nasib sendiri, semua juga akan melaluinya, kemudian takdir akan menjadikan kita siapa.
Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita / Karena soalnya adalah hukum sejarah kehidupan ...... dan kenangkanlah pula / bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa / menghadapi langit dan bumi dan juga nasib kita
Nb : Tulisan lain warna hak penuh milik Ws Rendra dalam ; Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya
5 komentar:
Nabi berkata ketika mendapat nikmat syukuri, bukan berarti bahwa tidak boleh tertawa, ketika mendapat musibah sabar, juga bukan berati tidak boleh menangis.
Tangis-tawa, mantap - limbung, gelisah - tenang, bingung - yakin, dst. masing2 berpasangan (kalau gak pas betul, anggap itu selingkuhan kata2nya).
Menolak yg satu berati menolak keduanya. Penerimaan utuh paradoks kehidupan mudah2an membuat jiwa yg gelisah menjadi tenang. Jiwa setenang telaga adalah hasil olah prahara yg dahsyat sebelumnya. Sayang kebanyakan orang hanya melihat hasil akhirnya. Salam.
Apa kabar kairo?
pilihan kata-katanya bagus.
"aku belum siapa-siapa untuk bersuara. Bisapun bersuara tapi bakal bisu, itupun juga tidak akan menjadi renungan dan hikmah manusia dikemudian hari"
aku suka yang bagian ini.
salam kenal.
mh u/ aroengbinang :
iya, kl difikir memang benar² demikian kata pak bambang, ntah,
yg anda katakan slalu susah utk
dipatahkan oleh pertanyaan sy,
yang sy khawatirkan adalah, ktika
antara dua sifat berbeda itu
hadir dan kita bertanya dimana
batas antara keduanya
mh u/ joni :
sebenarnya pada anda lebih banyak
kata2 yang lebih indah dan nikmat,
hanya untuk saat ini, anda melihat
itu disini, nanti akan saya cari
reruntuhan dr istana kata itu,
di bilik anda, salam kenal.
kau ini terlalu resah pada bayang, gundah pada lamunan dan dengan itu kau lupa dirimu yang asli.
tidak apa kalau gundahmu mengantarkan kau pada pemberhentian yang memuskan. tapi gundahmu sekarang itu hanya gundah, cuma resah yang kau tidak berani melawannya.
terlalu senang kau terbang tanpa sayap dan tak pernah hinggap.
terbang aj ke rumah, pintuku terbuka dan kita makan bersama hahahaaaa....
mh 4 doeldal :
iya, kita akan makan lagi, mungkin saat makan tidak lagi menjadi ujung duri,
iya kita akan makan lagi.
Posting Komentar