Serat Mimpi - 13
Petang kemarin aku terlalu resah di kamar terdepan sebuah rumah paling bawah. Aku keluar menuju rumah lain yang siapa tahu bisa memberiku makna baru... tentang kebenaran hidup & dalil untuk mengadili kenyataan.Ke rumah teman-teman yang tidak menolak kedatanganku, ke rumah saudara-saudaraku yang tidak hanya mengharap sebuah bingkisan dan upacara pesta. Hangat sambutan mereka memeluk mukaku menuju pintu rumahnya, aku bukan orang baru bagi mereka, adapun mereka bagiku juga tidaklah baru. Mereka terbuka, mereka kutatap tersenyum selamanya meski pada dasarnya tidak salah jika manusia berwajah masam, angkuh dan memelas. Tapi aku tak menginginkannya kemarin. Benar, yang kuinginkan cukup ketika mereka tersenyum ria aku mampu mengiringinya dengan mimik tanpa sandiwara walau sandiwara tersebut diperankan seorang senior pemain drama.
Tidak di sakuku banyak lembar uang, meski angkanya 10 Junaiha, apalagi pecahan dolar Amerika. Jadi aku sudah berharap ketir jangan-jangan mereka mengajakku duduk-duduk makan di rumah makan malaysia. Tuhan untuk kali ini jangan timpakan kepahitan, kata-kata mujarab yang disebut doa diujarkan hati, demi sebuah pertahanan diri. Ternyata, jauh-jauh wasangka itu hanya berupa ketakutan saja. Mereka tidak mengajak kemana-mana. Semua itu acapkali ketakutan yang dibesar-besarkan. Seperti perasaanku mengatakan air itu dingin, padahal ketika telapak tangan telah menyentuhnya juga biasa-biasa saja rasanya (kecuali air es : perasan atau tanpa perasaan air es itu tetap dingin). Atau jangan-jangan masa depan & akhirat itu juga seperti yang kurasakan ini, dipertegas dari rawi-rawi kacangan tentang ahli filsafat yang mengemukakan bahwa surga dan neraka adalah berupa perasaan saja ? yang hanya terlalu besar dan diperbesar ketakutannya (tanpa meremehkan) ?
Lesu betul perutku, dari sekitar maghrib sampai jam 12-an malam aku tiba-tiba bisa makan sampai tiga kali porsi. Yang bisa kumakan ya kumakan, bah terserah orang berdalih musim dingin selalu bikin kelaparan atau apa. Ya karena aku lapar aku makan, dan ketika aku tidak merasakan lapar lagi berarti aku mesti berhenti makan. Alah-alah kalau dinalar pakai otak paling sadar, sebetulnya simpel juga ya semua apa yang ada pada dunia ini. Kalau tidak lelaki ya perempuan, kalau tidak diatas ya dibawah, kalau tidak perlente pasti kere, kalaupun ada pertanyaan kerap jawabannya antara Iya atau Tidak. Tapi aku kerap heran tak kepalang selama ini, kenapa banyak manusia di dunia ini (termasuk aku) cenderung ketakutan untuk bersikap iya dan tidak ? sehingga mengakibatkan besar kerugian bagi diri sendiri, cepat maupun lambat.
Dari siang kemudian malam lalu pagi aku tak tertidur, aku terjaga melawan tabiat. Ada yang harus kutangkap saat banyak manusia di sekelilingku jatuh tersekap mimpi-mimpinya yang lelap. Aku suka saja melihat wajah orang tertidur, wajah paling alami dari manusia kukira ya ketika manusia sedang melakukan rutinitas itu. Seperti percayaku, ketika orang tidur ia sedang dalam kematian dini. Karena ruhnya terbang ke alam yang tak bisa diraba, alam yang didalamnya berupa rentetan demi rentetan fikiran sebelum ia istirah. Pada waktu itulah sebenarnya Tuhan membuka pintu langitNya lebar-lebar tanpa tabir, dimana doa seorang hamba mampu melesat cepat pada arah sasarannya. Dimana dialog penanya dan penjawab keduanya terasa khidmah. Namun, manusia lebih memilih tabiat daripada kejaiban-keajaiban di luarnya. Atau memang di dalam relativitas kebenaran sering melahirkan pencerahan-pencerahan fikiran yang tak terduga ? entahlah, lagi-lagi aku menjadi penggumam yang handal.
Tapi ketika aku hendak pergi setelah berkali-kali lesu, sampai lesu itu hilang dengan menelan ratusan beras yang dimatangkan kemudian minum kopi dan bermain asap di kubangan asal mula suara. Aku tak bisa melupakan percakapan yang kerap di warnai siapa, apa, kenapa dan seharusnya bagaimana. Kita terasa menyambung dan apa yang dihasilkan oleh otak kita sama-sama mudah dicerna satu sama lain. Kita pecinta Essais Indonesia, teman-teman kita pun juga sama. Umpatan dan gurauan kita kalau tidak Cok ya Jancok meski pada dasarnya tidak bisa dikategorikan dalam kata-kata keji atau munkar. Karena itu adalah hasil daripada peranakan yang lahir dari rahim budaya. Kita sama-sama yakin, dua kata istimewa diatas adalah kata yang paling akrab untuk daerah kita walau untuk daerah lain menganggapnya apa, masa bodoh bukan ? Tapi jujur, yang tertambat di fikiranku dan sampai sekarang saat aku duduk tanpa tenang di depan tumpukan diktat kuliah yang baru saja terjamah, adalah percakapan kemarin bagaimana kita (manusia) sampai pada Tuhan...
Apakah kita seperti Filosof yang mencintai Tuhan dengan terlebih dahulu mengenali-Nya baru mencintai-Nya ? ataukah menjadi Agamawan yang mencintai Tuhan karena memang sudah didasari keyakinan dan lebih banyak mengekor pada para mullah ? kemudian aku sodorkan jalan lain dengan mencintai Tuhan sekaligus sambil mencintai-Nya ? apakah bisa, katamu tidak bisa. Namun aku belum final untuk ini, akan kugorengkan lagi dalam kehidupan yang gumal.
2 komentar:
…pada gilirannya apa yang sering terjadi juga dalam keyakinan terjadilah di dalam histeria ini: siapa yang terlalu cemas akan runtuhnya sesuatu yang suci murni (seraya menuding ke kanan dan ke kiri) akan bertemu dengan kenyataan bahwa hidup tidaklah segenting yang dibayangkan…
Jalan yg ditempuh para pencinta tidak perlu sama, karena takdir kelahiran dan rangkaian pertemuan dalam hidup yg berbeda. Karenanya yg satu tidak lebih baik dari yg lain.
Kesempurnaan cinta diperoleh dg bersatunya rasa, pikir, jiwa dan tindakan. Yg satu bisa mendahului dan lebih kuat dari yg lain, dan itu sah, karena bawaan dan didikan, serta ketidaksempurnaan manusia dan keterbatasan, waktu, jarak dan pundi2. Salam.
Posting Komentar