I
hei…
jangan ke tengah-tengah, jangan ke laut, ombaknya besar!
hei…
pegang erat-erat dan pakai topi itu, hadap kesini kita foto-foto
itu laut, ibu, itu laut!
laut itu airnya asin kan, bu?
iya!
disitu rumahnya ikan paus dan hiu
istananya ratu-hantu
1993, usiaku sepuluh tahun kurang empat bulan, pertama kali ibu mengenalkanku kepada pantai, kepada laut, kepada ikan, kepada ombak. sayang aku belum memahami bahwa waktu memiliki warna masing-masing di setiap saat, waktu itu yang ada sepertinya hanya biru. semuanya biru
1997, kedua kalinya aku mengunjungi tempat yang dikenalkan ibu dulu. kedua yang istimewa, karena untuk sampai sana harus berjalan kaki dari kota yogyakarta melewati kotagede terlebih dahulu dan menyusuri persawahan yang gelap gulita saat masuk kabupaten bantul. sekitar 30km ditempuh mulai dari jam 10 malam dan sampai bibir pantai selepas subuh.
sesampainya di pantai seorang teman bilang, di pantai ini tidak boleh pakai baju hijau nanti digondol roro kidul. ya, ini tentang warna hijau dan biru. aku memakai kaus warna biru, bukan hijau. beberapa tahun kemudian yang mengertikanku ada warna selain biru, hijau!
2002, ketiga kalinya, tapi dengan perasaan yang lebih berbunga, aku membawanya kesana dengan satu tambahan warna : merah jambu.
dan setelah itu aku tidak bisa lagi menghitung berapa kali saja aku sudah berkunjung. sejak itu pula sampai sekarang aku menulis ini seperti dalam lorong-lorong amnesia yang teramat panjang, aku lupa aku meraba-raba aku mendapat sesuatu. seperti yang dikatakan orang-orang : yang paling berharga adalah barang hilang-mu yang ditemukan oleh ingatan. sesuatu berharga yang kugenggam lagi setelah aku lebih begitu mengerti apa itu merah, ungu, kuning, jingga dan sebagainya di luar perasaan dan pikiran!
terkadang bunga-bunga di hati itu mengaburkan jalan menemukan keindahan diluar diri. milikku yang hilang itu adalah parangtritis!. selamat hari-mu, ibu. besar-tumbuhku dalam cintamu!
***
II
siapapun memiliki cara bagaimana ia bercerita tentang kehidupannya, pemikiran dan perasaan emosionalnya. semua dengan sendiri-sendirinya, dengan kemampuan ingatan dan kecerdasan mengolah temanya.
kla project, grup bandnya katon bagaskara itu mungkin adalah satu-satunya band yang memahami betul siapapun yang pernah hidup, tinggal, mengunjungi, atau bahkan sekedar melintas di tengah-tengah kehidupan kota ini. lirik puitik di lagu “yogyakarta” mewakili tautan ingatan tentangnya, melebihi lagu-lagu ebiet g ade tentang parangtritis ataupun doel sumbang tentang malioboro, ataupun yang lainnya.
saat mempelajari sastra, selain aku mengenal lebih jauh tentang api-persoalan negeri-negeri-senja di pantai-pantai-kesendirian di kamar-kamar penyair, ada yang lebih kuingat dengan benar-benar : mempelajari kota, setiap kota memiliki baunya sendiri.
sengaja kuhabiskan waktu di kota ini dalam beberapa minggu. memang. aku tidak dapat mencatat dengan rinci berbagai kejadian dan persoalan di dalamnya, di setiap hari-harinya, yang artinya aku mengabaikan tautan ingatan yang lalu dan kenyataan saat ini. tapi setidaknya aku mulai merasakan perubahan-perubahannya (entah siapa yang berubah : aku dan pikiranku sendiri atau kota yang kumaksud?)
tapi hal terbesar yang berubah disini : anak-anak muda idealis sudah mati!
beri aku orang tua maka akan kuubah negeri ini, beri aku para pemuda maka akan kupindah mahameru! begitu kurang lebihnya ucapan mendiang bung karno soal maha-pentingnya pemuda. apapun bangsanya, apapun agamanya pemuda adalah simbol perobahan : kuda liar yang membawa gerobak teori! ia akan menabrakkan apa saja yang merintangi perjalanan di depannya supaya gerobak yang ia bawa sampai di tujuannya. lincah, cekatan dan harus konyol.
tapi tidak untukmu yogya kini, kamar-kamar pemuda tidak lagi bersesakan dengan buku-buku dan sobekan kertas-kertas pemikiran. fasilitas terlengkap di kamar anak muda bukan lain adalah : televisi, komputer, ac dan kamar mandi di dalam! supaya bisa nonton tayangan cabul lantas menanjak berbuat cabul. segala sesuatu sudah terhitung terukur, anak-anak muda menjadi penghitung nasib paling ulung, padahal sifat-sifat tersebut adalah sifat orang-orang yang mestinya tua, -orang tua yang lacur berkarakter cabul, dan pada kasus tukang ukur nasib adalah orang tua yang sudah berpengalaman mencari nafkah dan anak istri besok makan apa?-. tidak lagi seperti kuda liar! menggebu, menggebuk, berkobar-kobar.
banyak hal-hal istimewa tidak lagi seperti dulu. lalu seperti apa kota ini sekarang dan harus seperti apa? cukup itu saja yang kutulis. aku mau pulang naik kereta (biar seperti dulu) sambil setel lagu di kuping : menjemput impian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar