Dunia ini besar, tapi ada yang lebih besar lagi. Dunia dalam diri-sendiri.
Mendengar-menyaksikan kematian menyerabut nyawa, sedikit saja membikin ngeri. Tapi ketika kuku-kakimu terkantuk kerikil di jalan, betapa besar cerita yang akan kau kabarkan nantinya, kerikil yang nanti kan diceritakan sebagai batu misterius lah, batu sebesar dosa-lah atau sebagainya (lebih ngeri dari kematian 1juta nyawa yang dikabarkan televisi?).
Seolah-olah dunia kita satu-satunya.
Sementara dunia yang sama juga dimiliki oleh orang-orang sekitar yang masih memegang nyawa, dunia yang akan makin harus diperluas jika memandangnya dengan memakai kacamata hawa-nafsu.
Setelah mati, itu akan dimengerti manakah terluas dunia ini. Dan untuk apa kehidupan dan tetek-bengeknya membiak di "dunia". Setelah mati.
Merasailah, bahwa hidup tidak sekedar disini, biar tahu warna, biar tahu dunia! biar melek budaya! biar tidak terlalu narsis sama etnis!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar