Rabu, Oktober 03, 2007

Hari Ini, Tentang Apapun

I
Aku sudah sampai tanah air. Dua minggu berjalan.

Begitu naik kereta menuju kota Bung Karno, Blitar, sejak saat itulah suguhan warna kehidupan sangat beraneka. Aku mendapat bapak dan anak duduk termangu di depan gubug reot, pinggiran ril kota Jakarta. Rumah-rumah pecah dari tanah, genting-genting dari kardus yang lebam. Sudah kutanamkan sedemikian kuat pada diriku sendiri. Aku teramat cinta dengan Indonesia. -Betapapun orang-orang di dalamnya, tingkah polah dan perilakunya.

Aku malu tidak bisa berbahasa inggris dengan baik. Kata Pipit, bedakanlah kebutuhan dan keinginan. Ya, aku butuh belajar bahasa Inggris (lagi).

Desa kecil 3 tahun lalu, kuinjak lagi. Setelah bertolak dari kota pertama yang kutuju. Tapi aku masih seperti dulu yang kekanak-kanakan. Saat aku berangkat dan pulang, dari tempat orang yang mengajariku bahasanya bule itu. Di pertigaan jalan bersebelahan wartel itu mataku selalu tertimpuk pada beberapa tukang becak dengan becaknya yang juga ikutan nongkrong.

Apakah mereka tidak ada pilihan lain di jaman yang sudah seperti ini ? Di jaman yang tenaga -kekuatan penuh- tak lagi menjadi penghasil duit yang menjanjikan dan cepat. Tak inginkah mereka perubahan dalam hidup juga nasib, gumamku dalam dunia lain. Atau hanya karena sebab "modal" yang tak ada, mereka harus mempertahankan kekalahan ?

Kenyataan yang bosan untuk dikutuk dan dicela.

II

Kemarin siang, aku menyambangi tukang pijat. Badanku pegal dan remuk. Terlebih di tulang-ekor. Kata Miftah, aku kurang cairan. Ginjalku panas tak karuan. Tukang pijat yang buta, begitupun istrinya. Kesemuanya buta tak melihat apa-apa. Mereka telah beranak satu, perempuan, kulihat lebih jelita daripada kawan-kawannya. Usianya masih sekitar 4 atau 5 tahunan.

Biasanya kalau dipijat, aku lebih sering ngantuk. Kalaupun tidak begitu, aku akan memancing si pemijat untuk bercerita. Pilihan kedua, aku pilih, di pemijat bercerita banyak. Tidak obrolan-obrolan seperti biasanya. Pemijat yang baru kukenali ini berbicara tentang kebutaan yang ia alami. Bagaimana itu bertahan hidup dengan kekurangan dan kebutaannya.

Lik, apa yang sampean pahami tentang hidup dalam kebutaan?

Mas, biasanya. Kalau orang buta saat mereka masih berumur dibawah lima tahun, mereka akan lebih bisa menerima. Tidak seperti seorang buta karena ia kecelakaan ataupun sakit, saat ia sudah dewasa. Kalau seorang buta sejak kecil, ia pasti legowo akan kebutaannya. Sedangkan seorang yang buta saat dewasa, yang sakit tak hanya karena tak melihat, tapi jiwanya pun juga. Jiwanya merasakan sakit, yang biasa ada tiba-tiba menjadi tiada.

Oh ! tersentak aku mendengar ucapan itu. Lalu aku tak bisa ngantuk sampai pijatan terakhir, membayar, pulang, kubayar pijatannya dan kubayar cerita tentang kebutaan. Tentang nasib malang.

III

Di Mesir dulu, kemana aku dan kawan-kawan berkepentingan, kami lebih banyak berjalan kaki. Disini, aku mencoba demikian. Dan memang benar, dengan berjalan-kaki rasa bertanya dan gelisah terhadap apa yang dilihat itu semakin puncak dan hendak meletus saja. Seperti Gunung Kelud yang hari-hari terakhir kawahnya bergolak lalu oleh pemerintah distatuskan menjadi "siaga".

Ada sepeda yang pengin dipinjamkan, ada motor yang disediakan juga. Aku memilih kakiku sendiri untuk berlari jika ketelatan jam masuk, atau bertahan dari kepanasan. Suatu hari, aku melintasi sebuah rumah yang tak jauh dari tempat aku berdiam sementara. Dari lubang-lubang kecil rumah tersebut, genting, ventilasi, pintu-belakang rumah, asap seperti diusir oleh tuan rumah. Putih dan bergabung dengan udara di luar rumah. Bukan hal tersebut yang membikinku terkejut, tapi bau...

Ya, baunya. Seperti yang pernah kucium saat kecil dulu. Bau orang selamatan, itu pasti bau apem. Kue yang dikukus diatas tungku api.

Bau khas dari setiap rumah-rumah yang mengadakan acara adat di kampungku sangat kuingat. Orang nikahan, orang selamatan, sunatan dll. Tapi ada yang sakit dari bau itu. Bau yang tak bisa kucium oleh hidung-masaku sekarang ini, yang tidak dengan berlari-lari dan main petak umpet, sering kucuri apem, pisang, jenang dll. Walau di musim-puasa, aku kerap nyolong-nyolong untuk berbuka.

Ya seperti bau tanah yang begitu akrab dengan setiap mayat.

Tidak ada komentar: